Awan tipis berlekuk seperti pisang itu menatapku, entahlah, mungkin aku yang duluan menatapnya namun tak ingin mengakui.
Memiliki keinginan yang sama, menjadi satu sama lainnya.
Aku ingin menjadi sepertinya, dan ia ingin menjadi sepertiku.
Aku ingin bebas sepertinya, dan ia ingin menjumpai banyak jenis sepertiku.
Lalu, aku mulai bertanya padanya, "Hei, bagaimana pendapatmu mengenai cinta?"
"Cinta? Mengapa kau menanyakan hal sedemikian rupa padaku?", jawabnya
Sejenak aku memperbaiki posisi duduk, lalu membalas, "Entahlah, aku hanya ingin tahu pendapatmu saja"
"Cinta juga memiliki bilangan. Ia memiliki satu garis universal, di mana semua orang bisa merasakannya, namun belum tentu bisa menyadari dan memahaminya. Ia pun memiliki dua sisi dalam peranannya, sebagai penghancur, juga sebagai pencipta.", ucapnya perlahan.
Sejenak terdiam, aku kemudian hanya bisa mengucap "Wah, begitu rupanya. Lalu bagaimana menurutmu tentang mereka yang sedikit miring dalam memaknai bilangan dalam cinta?", tanyaku kembali.
"Maksudmu?", ia merespon dengan cepat, keningnya mulai mengernyit, membentuk lipatan-lipatan yang menonjol, seperti pada perut bayi yang gemuk.
"Maksudku, bagaimana dengan orang orang yang melakukan hal berdasarkan jumlah bilangan lalu mengatasnamakan cinta? Misalnya, mengapa kita harus menghitung telah berapa lama kita menjalin relasi dengan orang yang kita kasihi? dan karena hal-hal seperti itu pula terkadang kita menjadi takut ketika yang terkasih mulai mengumpulkan keberaniannya untuk mengalahkan ketakutannya", tegasku.
"Karena kita mulai merasa bahwa mereka semua adalah milik kita. Kita menjadi posesif. Kita menjadikan 'ikatan' sebagai terali besi yang melingkar di pergelangan kaki. Karena kita memiliki cinta, maka hasrat kita untuk melihat para terkasih untuk terbebas dari kerangkengnya mulai bergejolak kuat. Namun, karena selama ini yang lingkungan perlihatkan kepada kita adalah ikatan yang posesif, maka kita mulai terbiasa untuk menjadi kejam pada orang yang amat kita lindungi. Kecemasan kita menjadi penghalang bagi naluri mereka untuk bisa tumbuh semakin kuat. Lalu kemudian kita mulai membuat boks di sekitar mereka, mengawasi setiap langkah yang mereka jejakkan, dan akhirnya, atas nama kekhawatiran, kita kembali memenjarakan mereka yang awalnya mengungkap hasratnya akan kebebasan." , ia menjawabku dengan serius.
Sedari tadi, sejak perjalanan selama kurang dari 3 jam itu, aku masih terus mengingat pembicaraan itu.
Apakah aku mulai posesif?
Kebebasan adalah impian tersuci setiap hati yang tak ingin terus bergelantungan di tangan orang lain.
Kebebasan adalah impian tersuci setiap hati yang tak ingin terus bergelantungan di tangan orang lain.
Di penghujung malam, aku mulai merisaukan ketenanganku yang mulai berontak.
Keramaian membuatku rindu akan kesendirianku serta kreatifitas diriku yang masih harus kuasah, aku belum cukup kuat untuk menghadapi masa depan, setidaknya dengan kondisiku saat ini.
Aku yakin, telapak tangan ini tercipta dengan tekstur yang lembut karena ia ingin digenggam, bukan ditarik-ulur.
Ketakutan akan kehilangan adalah pisau bagi pertalian rasa.
Aku mencintaimu, seperti semesta menyayangiku di setiap cuaca yang ia berikan; ia ingin aku kuat.
