Malam saja sudah larut, apalagi pikiranku yang sedari tadi mengawang-awang, larut dalam diam.
Sunyi malam ini begitu memekakkan telinga, bahkan setetes air di atas atap kamarku pun menjadi begitu heboh.
Berbaring di sisi kanan kasurku, aku merentangkan kedua tanganku ke samping. Tangan kananku menutupi kedua matanya yang begitu lekat dengan kulitku. Ia juga berbaring di sampingku, menatap langit-langit kamar. Mungkin saja ia sedang membayangkan langit-langit ruang makan Hogwarts yang berselimutkan langit dan bintang.
Ia terpingkal sejenak lalu kembali terdiam.
