Rabu, 26 Desember 2012

Its Raining outside, NOT inside

Aku melalui jalan yang panjang hanya untuk menyapamu, meraba lekuk wajahmu yang dibalut derita.
Merengkuh bahumu yang semakin tipis, tergerus akan siksa oleh penjara kecil bernama keluarga.
Lalu setelahnya aku akan terus mengalir ke bawah, hingga mencapa telapak kakimu yang kokoh.
Kau selalu saja bisa berdiri, meski tamak orang-orang sekeliling mulai beramai-ramai mendaki punggungmu.
Kau semakin kecil saja, hanya pada saat seperti ini aku bisa betul-betul merasaimu, dan bukan menguasaimu.
Setiap langkah yang kau ambil untuk menjauhiku justru semakin mendekatkanmu pada kaki-kaki hujan yang mempertemukan kita.
 -
Telapak kakiku dipenuhi lumpur, senang juga akhirnya bisa kembali bermain hujan dan bermandikan tawa.
Hingga saat ini, berbaring di rumput dan mencoba menatap bagaimana hujan turun, masih begitu sulit.
Juga bodoh dan menyenangkan.
Kita terlahir diiringi oleh dengung hujan pada atap rumah yang mulai karatan dan bocor di beberapa titik.
Kita bermain, melukis aliran sungai, tak peduli sedang banjir atau tidak, dan itu memang menyenangkan.
-
Memandangi hujan menari dari kaca jendela memang menyenangkan.
Namun menari bersamanya di luar sana; di halaman rumah, di lorong-lorong, 
di taman, di bukit, bahkan di trotoar sekalipun, 
selalu jauh lebih menyenangkan.
Aku bersyukur, semesta peduli padaku, melalui hujan.

Senin, 17 Desember 2012

Perempuan Taman

Pagi menjelang, kantuknya mulai meradang, hangat segera datang.
Sedari dini hari ia duduk di bangku taman. Berkawan dengan dingin, tak lagi peduli dengan panasnya  komentar setiap orang yang melihatnya duduk berselimut malam, sendirian.
"Lalu mengapa kalau aku perempuan?
Apakah menikmati kesendirian sudah merupakan tindakan kriminal?"

Kamis, 06 Desember 2012

Tunggu

Menghampiri penghujung tahun dan aku masih di sini, terlipat bersama gundukan kenangan dari segala masa.
Katanya, aku masih terus meneus bergerak dalam lingkaran, namun kali ini lingkaran itu semakin membesar, membuatku salah duga, membuatku mengira bahwa aku telah melangkah menuju tahap selanjutnya.
Aku tertipu oleh realita, aku dikelilingi sesal yang berteman sesak.
Mungkin aku akan menyakiti seseorang lagi atau bisa jadi banyak orang karenanya.
Tidak, sudah bukan saatnya untuk seperti ini, aku harus bergerak.

November kemarin tetap menyisakan sesuatu buatku, spesial.
Ia menitipkan keinginan padaku; keinginanku.
Aku tak kan peduli jika seluruh dunia bersekongkol untuk menenggelamkanku, aku takkan berhenti.
Dan kau telah lebih dahulu bepergian, mengirimkan cerita padaku, melalui amplop biru yang membuatku lebam.
Setiap ceritamu seperti musim yang silih berganti, setiap saat berubah, meski tak semuanya membuatku senang, tapi semuanya masih bisa kuterima.
Dan beberapa hari yang lalu, kau kembali melanjutkan petualanganmu.
Katamu kau hanya mampir sejenak untuk melihatku, dan memberiku cerita pengisi hidupku yang hampir terus menerus terulang, membosankan.
Katamu kau ingin pergi ke Pulau Langit Skypea.

Aku tengah bersiap untuk siap.
Aku mengatur rencana, menentukan tanggal.
Tak lagi ingin dikungkung bosan, aku mulai meradang.
Semuanya nampak palsu, sengaja mengoyahkan imajiku.
Heningku mulai menguat, waktu tak lagi boleh dibuang.
Aku mulai berbagi mimpi, dengan kepalaku, kakiku, tanganku, juga bahuku.
Semuanya tergambar, yang ada menghampar luas dihadapan mataku.

Aku melihat diriku melangkah meninggalkan bayang.
Kau selalu bisa membuatku meninggalkan sarangku, aku akan mengejarmu.
Tak peduli seberapa pedih akan diberi oleh petualangan.
Kemonotonan akan membunuhku, aku masih ingin hidup.
Untuk bisa terus mengejarmu.
Tunggu.


Senin, 19 November 2012

20 11 2012

Hey El Novembre, aku menantimu sedari tadi, aku ingin bercerita padamu.

Secangkir teh hangat menjadi selimutku untuk malam ini.
Bertahun-tahun menjelajahi hidup, menghabiskan beberapa di antaranya untuk memastikan bahwa tak ada satu pun yang sia-sia untuk dijadikan memori.

Kamis, 01 November 2012

November

Langit begitu cerah di tengah gelapnya kerumunan angin dingin yang mengepung kota nakal ini.
Pun aku baru saja tiba di sini, di puncak bukit yang tak satupun pohon menjulang di atasnya.
Hanya hamparan rumput pegunungan yang selalu siap menjadi alas untukku berbaring, hari ini benar-benar menguras tenagaku, dan aku ke sini untuk mendapatkan sedikit ketenangan untuk memulihkan letih. 

Malam ini tak lagi asing bagiku, aku sangat mengenalinya. Sebuah malam menuju subuh di mana dulunya aku mulai mengintip langkah pertamaku di dunia. Udaranya memang sejuk, aku lahir di musim yang menyenangkan. Hujan pun meninggalkan rumahnya untuk turun dan mengajakku bermain, detik-detik pertama kehadiranku disambut oleh hujan. Aku senang.

Senin, 29 Oktober 2012

Malam Ini

Awan tipis berlekuk seperti pisang itu menatapku, entahlah, mungkin aku yang duluan menatapnya namun tak ingin mengakui.
Memiliki keinginan yang sama, menjadi satu sama lainnya.
Aku ingin menjadi sepertinya, dan ia ingin menjadi sepertiku.
Aku ingin bebas sepertinya, dan ia ingin menjumpai banyak jenis sepertiku.
Lalu, aku mulai bertanya padanya, "Hei, bagaimana pendapatmu mengenai cinta?"
"Cinta? Mengapa kau menanyakan hal sedemikian rupa padaku?", jawabnya
Sejenak aku memperbaiki posisi duduk, lalu membalas, "Entahlah, aku hanya ingin tahu pendapatmu saja"
"Cinta juga memiliki bilangan. Ia memiliki satu garis universal, di mana semua orang bisa merasakannya, namun belum tentu bisa menyadari dan memahaminya. Ia pun memiliki dua sisi dalam peranannya, sebagai penghancur, juga sebagai pencipta.", ucapnya perlahan.
Sejenak terdiam, aku kemudian hanya bisa mengucap "Wah, begitu rupanya. Lalu bagaimana menurutmu tentang mereka yang sedikit miring dalam memaknai bilangan dalam cinta?", tanyaku kembali.
"Maksudmu?", ia merespon dengan cepat, keningnya mulai mengernyit, membentuk lipatan-lipatan yang menonjol, seperti pada perut bayi yang gemuk.
"Maksudku, bagaimana dengan orang orang yang melakukan hal berdasarkan jumlah bilangan lalu mengatasnamakan cinta? Misalnya, mengapa kita harus menghitung telah berapa lama kita menjalin relasi dengan orang yang kita kasihi? dan karena hal-hal seperti itu pula terkadang kita menjadi takut ketika yang terkasih mulai mengumpulkan keberaniannya untuk mengalahkan ketakutannya", tegasku.

"Karena kita mulai merasa bahwa mereka semua adalah milik kita. Kita menjadi posesif. Kita menjadikan 'ikatan' sebagai terali besi yang melingkar di pergelangan kaki. Karena kita memiliki cinta, maka hasrat kita untuk melihat para terkasih untuk terbebas dari kerangkengnya mulai bergejolak kuat. Namun, karena selama ini yang lingkungan perlihatkan kepada kita adalah ikatan yang posesif, maka kita mulai terbiasa untuk  menjadi kejam pada orang yang amat kita lindungi. Kecemasan kita menjadi penghalang bagi naluri mereka untuk bisa tumbuh semakin kuat. Lalu kemudian kita mulai membuat boks di sekitar mereka, mengawasi setiap langkah yang mereka jejakkan, dan akhirnya, atas nama kekhawatiran, kita kembali memenjarakan mereka yang awalnya mengungkap hasratnya akan kebebasan." , ia menjawabku dengan serius.

Sedari tadi, sejak perjalanan selama kurang dari 3 jam itu, aku masih terus mengingat pembicaraan itu.
Apakah aku mulai posesif?
Kebebasan adalah impian tersuci setiap hati yang tak ingin terus bergelantungan di tangan orang lain.

Di penghujung malam, aku mulai merisaukan ketenanganku yang mulai berontak.
Keramaian membuatku rindu akan kesendirianku serta kreatifitas diriku yang masih harus kuasah, aku belum cukup kuat untuk menghadapi masa depan, setidaknya dengan kondisiku saat ini.
Aku yakin, telapak tangan ini tercipta dengan tekstur yang lembut karena ia ingin digenggam, bukan ditarik-ulur.
Ketakutan akan kehilangan adalah pisau bagi pertalian rasa.
Aku mencintaimu, seperti semesta menyayangiku di setiap cuaca yang ia berikan; ia ingin aku kuat.

Rabu, 17 Oktober 2012

Terimakasih

Aliran waktu telah berpindah jalur, rupanya.
Sayangnya tetap saja tak mampu mengubah dan menghilangkan riduku akan kita.
Aku masih percaya, bahkan sampai saat ini, kau-lah yang terhangat yang pernah kudekap.
Dan aku yakin, masih tersisa jutaan kalimat yang belum tersampaikan.
Ah, anggap saja kita sudah bisa menerka apa-apa saja mereka itu.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Teruntuk semestaku yang begitu luas

Ia masih sibuk, membenahi ruang hatinya.
Kenangan berserakan di mana-mana, tercampur aduk, seperti semua rasa yang menyatu di tiap momen yang pernah ia lalui.
Tangisnya mulai merebak bersamaan dengan mekarnya senyum yang ia tanam dahulu kala.
Ia ingat, ya, ia masih ingat.

Rabu, 12 September 2012

Guten Nacht

Ia masih menatap bulan dalam diam.
Kasurnya balum ia sentuh sama sekali, ia belum ingin tidur.
Jendela kaca mulai gemetaran menahan dingin angin malam ini, kipas angin, toh, tetap saja ia nyalakan.
Katanya ia akan segera pergi untuk beberapa hari, dan akan membutuhkan kekuatan fisik-mental yang besar.
Entahlah, mungkin saja perjalanannya untuk sementara harus terhenti pada suatu titik.
Ia sedang mencari sehat, atau apapun yang bisa membuatnya kembali meneruskan harinya.

Rabu, 05 September 2012

R.V.C

Matanya masih kecokelatan, rupanya, pun yang ia kenakan memiliki ciri yang serupa.
Ingatanku tak salah, aku yang menuduhnya demikian.
Kami berpandangan, aku tetap berjalan dari arah sampingnya, dan dia pun masih berjalan lurus, menjauh.
Aku menerka bahwa aku begitu terlena, terkena mantera, atau bisa kubilang, aku tak tahu harus apa selain terus berjalan. Bahkan tak sempat terlintas di akalku untuk menghentikan langkah dan menatapnya dengan lebih sadar.

Kamis, 30 Agustus 2012

A Spirit to share

"Anakku, aku ingin kau tumbuh dengan tekad seperti Icarus, bahkan ikuti keingintahuannya yang selalu meluap. Akan kubuatkan sepasang sayap lilin untukmu, terbanglah, menuju langit, raihlah matahari, bahkan jika sayapmu harus meleleh dan akhirnya kau terjatuh, menabrak tanah dengan keras. Rasai angin yang semakin dingin, juga sinar matahari yang makin panas jika kau semakin mengarah ke atas. Ya, mereka memang paradoks. Namun semuanya adalah dekapan yang membuat tubuhmu semakin kuat, lalu nafasmu pun menjadi semakin hangat. Kelak kau akan diharuskan untuk membagikan hangat kehidupan kepada mereka yang sedang terjatuh dan kedinginan. Anakku, semua tempat yang tertinggi maupun yang terendah memiliki suhu dan lingkungan yang ekstrim. Tak perlu takut, dan jangan tenggelam terlalu dalam ketika mengarungi kepedihan, bumi telah berjanji untuk selalu memberimu es krim. Kau adalah api yang menghangatkan semuanya, namun juga mampu membakar segalanya. Arungi dunia, kumpulkan kru mu sendiri, jangan berlutut, kau terlahir untuk berdiri tegak. Matahari pagi memberi kehidupan, matahari senja memberi tentram untuk kematian. Sampai jumpa, Ace."

Sabtu, 25 Agustus 2012

Dongeng malam

Ibu bilang, bintang itu terbuat dari lipatan-lipatan kertas masa lampau. Pun bulan adalah makan malam para keajaiban yang tak kunjung bisa dimakan sampai habis, entah karena porsinya yang terlalu banyak, ataukah rasanya yang begitu lezat hingga mereka tak tega menghabiskannya begitu saja, Ibu selalu membuatku penasaran dengan itu.

Minggu, 12 Agustus 2012

Serene

Dari balik angin aku menatap, menyaksikanmu termangu menatap langit. Kasurmu masih dingin, lantai tak jua lebih hangat, namun kau lebih memilih untuk duduk di atasnya daripada berbaring di kasurmu. Bahkan selimutmu menjadi semakin tipis, katamu kemarin. Dadamu berkembang menjadi semakin sesak, kepalamu semakin sempit terhimpit, kau merasa kesendirian berhasil menjangkitimu. Kau pun diracuni sedih.
Kau sendiri sadar, ini bukan dunia di mana pelangi itu muncul setelah unicorn berlari melintasi langit.
Baterei ponselmu saja masih lebih hangat ketimbang jari kakimu, kau betul-betul "terpaku".

Kamis, 09 Agustus 2012

Us Against The World

Meletakkan gelas air minum lalu melanjutkan rokok yang sisa beberapa kali hisap lagi. Baru saja selesai makan, atau sedikitnya, sahur. Sahur. Ya, sahur.
Aku punya banyak ingatan mengenai itu, juga beberapa manusia terkonyol yang pernah kutemui yang menemaniku di tiap sahur dan lebaran-lebaran sepi setelahnya. Banyak cerita yang telah terajut di tiap lembaran waktu dalam kurun 5 tahun terakhir ini, dan aku percaya, tak satu pun di antaranya yang sia-sia.
Aku percaya semuanya adalah kepingan terpenting dari hidupku yang membuatku kuat untuk bertahan hingga kini.

Senin, 06 Agustus 2012

Dess Incarate

Empat, tiga, dua, bahkan satu, tak ada yang bisa mewujudkan keinginanmu.
Kau selalu saja merasa lemah, pula semakin.
Tiap harinya selalu diteriaki, kau bagaikan mikrofon di atas podium.
Entah ustadz, entah politikus, entah aktivis, atau bahkan seisi rumah, ramai-ramai meneriakimu.
Bisa jadi mereka mengiraimu sebuah tembok, mereka berteriak padamu, lalu emosi mereka terlampiaskan, lalu kau kembali ditinggal sendirian.

Kamis, 26 Juli 2012

I Say

"Jangan biarkan amarahmu ikut terpenjara bersama waktumu, kau akan kehabisan amunisimu satu-satunya ketika kesabaranmu melemah dan mereka semakin menggila..."

Marahlah!

Kamu bersabar, lalu kembali disakiti oleh mereka.
Well, sayang, dunia telah terjungkirbalikkan.
Semua permukaannya dibalikkan, dimasukkan ke dalam tanah dan menjadi inti bumi yang baru.
Sementara inti bumi yang dulu, dikeluarkan lalu menjadi permukaan yang baru, isinya berserakan di mana-mana. Kau telah melihatnya sendiri bukan? Bahkan darah tak lagi mengalir di dalam tubuh. Dengan kekejaman aparat, serta perang, darah bisa saja mengalir di selokan-selokan depan rumahmu, di tempat di mana biasanya limbah dari rumahmu dibuang.
Jangan lagi pertanyakan keberadaan moral, sayangku. Ia berada di bawah tumpukan uang yang dibuat dari campuran kulit dan darah waktu-waktu kita yang terampas.

Minggu, 22 Juli 2012

Aku suka, aku nyaman, dan aku tenang, maka aku berjalan kaki.
Aku berjalan kaki, aku sendirian, headsetku terpasang, aku dibilang orang angkuh yang penyendiri.
Aku menolak diberi tumpangan, menolak diberi uang angkot oleh orang tak kukenal, aku dikatai tidak modern, tak tahu cara berterimakasih - aku hanya berhati-hati terhadap jejaring.
Aku melakukan yang membuatku merasa hidup, kalian mengatai aku mati.
Aku menulis, kalian merajai - membacaku.
Aku bebas, kalian kebas, pada kalian aku muak, padaku kalian mendongak.
Kalian mencaci, kalian memaki, kalian mengusik, kalian menyumpahi, kalian menggosipi, kalian membenciku, dan aku, TAK PEDULI..

Kalian kira aku tak bisa hidup tanpa bergantung pada kalian?
Kalian kira setiap detik yang kuhabiskan sendirian tanpa kalian adalah buang-buang waktu?
Kalian kira kalian yang mengatur nafasku?
Pikirkan kembali!

Aku menemani kalian, aku tak minta dibayar, aku tak minta disuguhi rasa hormat.
Kalian meminta, maka aku mengingatkan.
Tatkala aku sejalan, kalian menjadi temanku.
Jikalau aku beda, kalian adalah musuhku.
Percayakah, aku lebih suka sendirian dan menyayangi diriku sendiri ketimbang menjadi palsu dan lupa akan diriku dan potensinya.

Kalian mencaci - maka aku mulai mencari.
Kalian memaki - maka jalan-jalan sepi kutapaki
Kalian mengusik - maka telinga tak lagi tertarik
Kalian menyumpahi - maka aku mengasihani
Kalian membenci - maka aku menyayangi.

Hukum dasar aklemis, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, harus mengorbankan sesuatu yang bernilai sama.
Dan aku, tak menyesal, sama sekali.

Selasa, 17 Juli 2012

Autumnsong - Manic Street Preachers

Belakangan ini lagi tergila-gilanya sama musik dan lirik dari lagunya Manic Street Preachers yang judulnya Autumnsong. Musiknya catchy, enak didengar untuk bikin tenang tapi semangat, apalagi kalau sedang ingin tidur siang (semangatnya di manaaaaa? -_-"). Lirik lagunya juga sangat berkesan, hangat, dan pasti menyentuh :)

Manic Street Preachers adalah band beraliran rock alternatif. Gerombolan ini berasal dari Wales, dan terhitung sudah dua orang personilnya digantikan. Well, mengenai biodata MSP sendiri silahkan dicari di webnya di atas.
Kembali ke lagu yang menghipnotisku belakangan ini, berikut video beserta liriknya.
Silahkan dinikmati, juga dicerna sendiri liriknya.

Panjang umur cinta dan kebebasan :)

"Wear your love like its made of hate.
Born to destroy, and born to create"

- Manic Street Preachers / Autumnsong -

Minggu, 15 Juli 2012

V for Vendetta

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca soft tile buku karya Alan Moore dan David Lloyd yang berjudul V for Vendetta (download di sini http://novels4you.blogspot.com/2012/03/v-for-vendetta.html). Bagus, namun bahasanya masih kurang sulit kupahami, apalagi dengan aksen "British" yang kental, namun tetap saja kubaca dan setidaknya garis besar novel bergambar itu kupahami. dua tahun setelahnya, teman saya, Ekbess (yang baik hati dan tidak makan sabun :D) memiliki bukunya, lalu kupinjam selama dua minggu (iyo kah? :D).
Setelah membacanya dalam bentuk fisiknya yang keren itu ^^ akhirnya saya mulai memahami bagian-bagian penting yang ingin kuketahui, juga bagian-bagian yang ingin disampaikan oleh Om Alan dan Om David (atau setidaknya beitu yang kutangkap :p).
Berikut beberapa kutipan percakapan favoritku, tapi percayalah, semua percakapannya bisa jadi favorit :D

What are we ?

Terduduk di atas genting rumah, lalu sejenak merebahkan diri. Membiarkan bintang-bintang menghampar di hadapannya. Lalu sejenak ia terlarut dalam lamunannya mengenai pengetahuan-pengetahuan warisan jutaan tahun silam yang begitu akurat, entah mengenai konstelasi maupun ilmu-ilmu bintang lainnya seperti meramal cuaca.
Ia tahu, bahwa orang-orang dulu selalu memperhatikan isyarat-isyarat yang dikirim bumi kepadanya. dan mereka selalu punya waktu untuk mencari petunjuk tentang itu, mereka percaya, isyarat-isyarat itu berguna untuk mereka dalam mempertahankan kehidupan, juga keseimbangan bumi. Mereka mempelajari bahasa tubuh dari alam sekelilingnya, untuk tahu kapan hujan tiba, dan kapan masa menanam juga memanen berada di puncaknya. 
Mereka sadar, alam itu bukan alat, mereka yakin, awan tak selamanya memberi hujan, mereka tahu, bumi ingin mereka tetap bisa bertahan hidup, tumbuh lebih kuat, untuk menjaga bumi demi generasi-generasi selanjutnya. Sayangnya, semangat yang seperti itu sudah tak lagi terwariskan. Orang-orang sudah mulai menolak untuk percaya pada kesempatan-kesempatan yang diberikan alam pada mereka untuk membuat bumi lebih baik, juga agar hidup mereka lebih layak.

Sabtu, 14 Juli 2012

Kakak Terbaik

Hey, it's been a very long years, isn't? Bagaimana keadaanmu di sana?
Baik-baik saja, kan?
Tadi sore tiba-tiba teringat lagi momen masa kecil kita. Entah karena terbawa mimpi atau mimpi terbawa.
Aku sedang membaca sebuah katalog yang berserakan di kamar. Lalu kubaca, sesaat terlarut dalam konsentrasiku, lalu kemudian aku menyadari. Aku membacanya dari halaman belakang.
Sontak ingatanku langsung tertuju padamu.
Entah sedang delusi atau apa, kurasa aku mulai terhisap ke dalam delirium kesadaranku, menuju kolam-kolam tempat di mana rekaman hidupku dibiarkan lepas dan berenang, seperti ikan.

Jumat, 13 Juli 2012

Trotoar; ke mana? di mana?

Entah pengelihatanku yang semakin redup atau memang lampu kamarku yang semakin pejam.
Tiap kali terpejam lalu sejenak membuka mata, semuanya semakin terlihat kelabu, dan malam justeru terasa semakin terang. Mungkin pagi telah menjelang.
Aku mengingat, selama berjalan kaki, aku memperhatikan bahasa tubuh setiap kendaraan, juga pengendaranya, tiap kali mereka lalu lalang di sampingku.
Salip-menyalip, klakson yang terus berulang, serta deru mesin yang semakin menderu, semuanya menjadi isyarat atas apa yang ingin mereka sampaikan.

Kamis, 12 Juli 2012

"Kau menghilang, kamu jalang yang kusayang.."
Ia lalu berbaring terlentang, jelajah pikirnya mulai membentang.
Imajinya melayang, matanya menghadap ke langit-langit kamar, menerawang.
Sepertinya dia sudah terbang menuju dunianya sendiri, aku melihatnya berdiri di depan gerbang.
Yah, sudahlah, sebaiknya aku membiarkannya seperti itu saja.

#temanku mabuk, dia curhat, kudengarkan, dan kubiarkan dia mencari jawabannya sendiri

Rabu, 11 Juli 2012

Waktu-waktu milik kita, terpenjara

Hey, lihat, hampir semua orang tergesa-gesa, utamanya ketika malam bergulir di sela-sela embun pada kaca kendaraan umum tempatku terduduk mematung, memperhatikan semua yang ada disekeliling. Yang aku lihat, semua orang nampak letih dan ingin segera sampai ke tujuan.
Jangankan untuk peduli, untuk memperhatikan saja mereka telah kehabisan waktu. Sementara setiap milisekon hidup kita, dari pagi hingga bangun berikutnya, berubah menjadi jutaan produk yang sebenarnya tak begitu kita butuhkan. 
Tubuh kita memang telah bebas, tangan tak lagi dikekang, kaki tak lagi dirantai, bahkan punggung tak lagi dilucuti cambuk. Tapi waktu, ya, waktu yang kita miliki, hampir seluruhnya terpenjara, di balik jeruji otoritas yang dibelenggu rutinitas.
Untuk waktu yan terpenjara, kita berhak untuk marah.
Kita berhak untuk merebut kembali waktu-waktu kita yang terpenjara.
Rutinitas mesti hancur.

# sebuah catatan kala petang menjelang, pete-pete 07, pukul 18.32 WITA

Rabu, 04 Juli 2012

Amnesia

Selalu seperti ini. Kita kekurangan makanan, semuanya habis menjadi racun yang dipajang di Restoran-restoran cepat saji. Kita kehausan, mineral telah berbondong-bondong diramu menjadi cairan berisi kebohongan yang dilabeli "alami". Kita kedinginan, kala lapar menghabiskan cadangan lemak yang kita peroleh dari sampah-sampah kaum boros di drum sudut jalan. Kita kepanasan, mengingat jutaan pohon ditebang hanya untuk dijadikan pembungkus makan siang cepat saji yang menandakan bahwa kau tak lagi punya waktu untuk membuat makananmu sendiri dan menikmatinya untukmu sendiri!

Senin, 07 Mei 2012

Mayday #2


Hai, apa kabarmu tahun ini sayangku?
Gulali awan senja selalu saja manis jika didampingi oleh gumpalan amarah yang membawa harapan untuk dititipkan pada masa depan.
Cumulonimbus yang makin pekat pun membawa tangis kesedihan, ia menyaksikan bumi disiksa oleh mesin. Ia menjadi saksi bisu ketika alam dimanipulasi menjadi lembaran-lembaran uang yang terus menerus diperebutkan.

Selasa, 24 April 2012

satu-lima-lima-dinihari

"Kamu puasa", tanyanya. "Tidak", jawabku.
Ia lalu menarik nafasnya, dalam. tangannya berayun menuju meja, jarinya menari melingkari gagang cangkir yang berisikan teh hangat dengan 1 1/2 sendok gula yang larut dalam adukannya, juga lamunannya. "Aku tak mengerti dengan semua sel-sel amarah dalam darahmu. Aku tak mengetahui tempo iramanya, dan jelas aku tak tahu kapan kau meledak. Aku tak meledek", lalu ia menyeruput teh hangat di tangan kanannya dengan dingin.

Minggu, 25 Maret 2012

To: Those who dare to put their steps outside the boxes

Kiri dan kananku mulai membisu, semua palsu.
Atas dan bawahku mulai memaku, di tengahnya berserakan debu.
Aku berdiri ketika pikiranku sedang jongkok.
Aku berjongkok ketika sekelilingku sedang terbaring.

Lihat, depan dan belakang tak lagi sama.
Masih segaris memang, namun takkan sama lagi.
Maju pun takkan lebih mudah dari mundur.
melompat ataupun berlari, tetap saja anak kelelahan.

"Dia", "kalian" dan "mereka"  memulai garisnya, menetapkan satu titik di mana ia telah lebih jauh menapakkan langkahnya.
Titik itu diarahkan padaku, lalu meintaku untuk menghubungkannya dengan titikku saat ini.
Dengar, sejauh ini lah aku mendahuluimu.
Lihat, tak usah dihitung, toh kau tetap saja akan mencapainya.
Ingat, setahuku, kau paling tak ingin kalah denganku.

Ketika semuanya menjadi menyebalkan, kadang aku bosan menjadi menyenangkan.
Ketika semuanya menyenangkan, justru aku menjadi membosankan.
Tak semua permintaan bisa diwujudkan.
Permintaan membutuhkan pengorbanan, dan kita hanya memiliki sedikit saja keberanian untuk itu.
Menjadi kuat bukanlah dengan fisik yang batu serta kekar.

Menjadi kuat itu simpel, cukup miliki keberanian untuk menciptakan langkah-langkah kesempatan, itu saja.
Dan di situlah letak di mana orang menyebutnya suliit.
Tetap semangat, batuk menahun takkan menghentikanmu, tidak sekalipun aku.
Kita akan menjadi globetrotter seperti impian kita
:)

Jumat, 24 Februari 2012

Dio's Whisper

Dia lalu menjejakkan langkah terakhirnya, menuju penghujung, lalu terduduk diam di tepian waktu. Kedua tangannya lekat di permukaan, di samping kedua pahanya. Ia menatap kebawah, matanya mencari-cari, "Ia-lah sang terkasih", gumamnya. Lalu mengapa semuanya lantas melebur menjadi cahaya, silau, mata tak mampu menampung kilaunya, sejenak buta, detik itu juga ia tak mampu mendengar apa-apa?

Kamis, 23 Februari 2012

Sedang amat tak nyaman di sini, belum bisa mendamaikan diri agar bisa menulis lagi . .
mungkin besok, atau lusa.
Tidak, segera!
:)

Senin, 02 Januari 2012

Reeflekshun

"Tapi sebelah mataku yang lain menyadari gelap adalah teman setia, dari waktu waktu yang hilang "
-ERK-

Yah, baru setelah beberapa langkah di bulan-bulan penhujung tahun kemarin aku bisa menyadari.
Menyadari mengapa berjalan kaki bersama hujan - yang kadang di benci banyak orang - merupakan ereksi ternikmat bagiku. Menyadari mengapa berbaring sendiri di kamarku yang tak jauh lebih nyaman dari gudang yang dipenuhi sarang laba-laba, juga debu, adalah delirium yang selalu mengajakku memutar langkah, sejenak melangkah ke belakang, kembali menyusuri sungai sejarah, di mana hidupku tak selalu bening - kadang keruh, dipenuhi bebatuan, lumut, juga pasang-surut hiruk-pikuk berbagai macam kehidupan lainnya.

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-