Ia masih menatap bulan dalam diam.
Kasurnya balum ia sentuh sama sekali, ia belum ingin tidur.
Jendela kaca mulai gemetaran menahan dingin angin malam ini, kipas angin, toh, tetap saja ia nyalakan.
Katanya ia akan segera pergi untuk beberapa hari, dan akan membutuhkan kekuatan fisik-mental yang besar.
Entahlah, mungkin saja perjalanannya untuk sementara harus terhenti pada suatu titik.
Ia sedang mencari sehat, atau apapun yang bisa membuatnya kembali meneruskan harinya.
dan waktu terus berlalu, hanya di mata vanillamu ia bisa terhenti.
maaf, aku hanya punya satu "depan", hanya bisa menghadap pada satu titik di suatu waktu.
dan aku hanya punya satu "belakang", mau tak mau ada yang harus memandang punggungku.
dan semoga punggung kita tak saling bertatap muka.
Aku masih termangu menatap bintang, mencoba menghibur diri dengan merangkainya menjadi sebuah bentuk yang kukenali.
Jendela kamar kubiarkan terbuka, aku senang tidur ditemani oleh angin.
Ibu bilang aku adalah anak dari cumulonimbus, oleh karenanya, awan putih di malam gelap menjadi hal berbeda yang aku sukai.
Aku mencapai titik kesekian untuk berhenti sejenak.
Di sini aku menetap, pada sebuah tebing di mana perang dewa pernah berakhir.
Konon tebing ini adalah tanah yang retak akibat tetes air mata manusia yang mencari mata air dewa.
Aku merebahkan diri, lalu sayap-sayap neraka mulai memelukku.
Tak lagi kedinginan, dan nafasku mulai teratur.
Kau berhasil membunuhku.
Sebelum mataku tertutup, kau membacakanku dongeng
mengenai kehancuran, dan juga kebangkitan.
Dan kasih menjadi pelengkap dari hidup yang mulai redup.
Hari Ini Kau Berusia 2 Tahun
3 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mengomentari :)