Aku melalui jalan yang panjang hanya untuk menyapamu, meraba lekuk wajahmu yang dibalut derita.
Merengkuh bahumu yang semakin tipis, tergerus akan siksa oleh penjara kecil bernama keluarga.
Lalu setelahnya aku akan terus mengalir ke bawah, hingga mencapa telapak kakimu yang kokoh.
Kau selalu saja bisa berdiri, meski tamak orang-orang sekeliling mulai beramai-ramai mendaki punggungmu.
Kau semakin kecil saja, hanya pada saat seperti ini aku bisa betul-betul merasaimu, dan bukan menguasaimu.
Setiap langkah yang kau ambil untuk menjauhiku justru semakin mendekatkanmu pada kaki-kaki hujan yang mempertemukan kita.
-
Telapak kakiku dipenuhi lumpur, senang juga akhirnya bisa kembali bermain hujan dan bermandikan tawa.
Hingga saat ini, berbaring di rumput dan mencoba menatap bagaimana hujan turun, masih begitu sulit.
Juga bodoh dan menyenangkan.
Kita terlahir diiringi oleh dengung hujan pada atap rumah yang mulai karatan dan bocor di beberapa titik.
Kita bermain, melukis aliran sungai, tak peduli sedang banjir atau tidak, dan itu memang menyenangkan.
-
Memandangi hujan menari dari kaca jendela memang menyenangkan.
Namun menari bersamanya di luar sana; di halaman rumah, di lorong-lorong,
di taman, di bukit, bahkan di trotoar sekalipun,
selalu jauh lebih menyenangkan.
Aku bersyukur, semesta peduli padaku, melalui hujan.
Hari Ini Kau Berusia 2 Tahun
3 tahun yang lalu
