Rabu, 26 Desember 2012

Its Raining outside, NOT inside

Aku melalui jalan yang panjang hanya untuk menyapamu, meraba lekuk wajahmu yang dibalut derita.
Merengkuh bahumu yang semakin tipis, tergerus akan siksa oleh penjara kecil bernama keluarga.
Lalu setelahnya aku akan terus mengalir ke bawah, hingga mencapa telapak kakimu yang kokoh.
Kau selalu saja bisa berdiri, meski tamak orang-orang sekeliling mulai beramai-ramai mendaki punggungmu.
Kau semakin kecil saja, hanya pada saat seperti ini aku bisa betul-betul merasaimu, dan bukan menguasaimu.
Setiap langkah yang kau ambil untuk menjauhiku justru semakin mendekatkanmu pada kaki-kaki hujan yang mempertemukan kita.
 -
Telapak kakiku dipenuhi lumpur, senang juga akhirnya bisa kembali bermain hujan dan bermandikan tawa.
Hingga saat ini, berbaring di rumput dan mencoba menatap bagaimana hujan turun, masih begitu sulit.
Juga bodoh dan menyenangkan.
Kita terlahir diiringi oleh dengung hujan pada atap rumah yang mulai karatan dan bocor di beberapa titik.
Kita bermain, melukis aliran sungai, tak peduli sedang banjir atau tidak, dan itu memang menyenangkan.
-
Memandangi hujan menari dari kaca jendela memang menyenangkan.
Namun menari bersamanya di luar sana; di halaman rumah, di lorong-lorong, 
di taman, di bukit, bahkan di trotoar sekalipun, 
selalu jauh lebih menyenangkan.
Aku bersyukur, semesta peduli padaku, melalui hujan.

Senin, 17 Desember 2012

Perempuan Taman

Pagi menjelang, kantuknya mulai meradang, hangat segera datang.
Sedari dini hari ia duduk di bangku taman. Berkawan dengan dingin, tak lagi peduli dengan panasnya  komentar setiap orang yang melihatnya duduk berselimut malam, sendirian.
"Lalu mengapa kalau aku perempuan?
Apakah menikmati kesendirian sudah merupakan tindakan kriminal?"

Kamis, 06 Desember 2012

Tunggu

Menghampiri penghujung tahun dan aku masih di sini, terlipat bersama gundukan kenangan dari segala masa.
Katanya, aku masih terus meneus bergerak dalam lingkaran, namun kali ini lingkaran itu semakin membesar, membuatku salah duga, membuatku mengira bahwa aku telah melangkah menuju tahap selanjutnya.
Aku tertipu oleh realita, aku dikelilingi sesal yang berteman sesak.
Mungkin aku akan menyakiti seseorang lagi atau bisa jadi banyak orang karenanya.
Tidak, sudah bukan saatnya untuk seperti ini, aku harus bergerak.

November kemarin tetap menyisakan sesuatu buatku, spesial.
Ia menitipkan keinginan padaku; keinginanku.
Aku tak kan peduli jika seluruh dunia bersekongkol untuk menenggelamkanku, aku takkan berhenti.
Dan kau telah lebih dahulu bepergian, mengirimkan cerita padaku, melalui amplop biru yang membuatku lebam.
Setiap ceritamu seperti musim yang silih berganti, setiap saat berubah, meski tak semuanya membuatku senang, tapi semuanya masih bisa kuterima.
Dan beberapa hari yang lalu, kau kembali melanjutkan petualanganmu.
Katamu kau hanya mampir sejenak untuk melihatku, dan memberiku cerita pengisi hidupku yang hampir terus menerus terulang, membosankan.
Katamu kau ingin pergi ke Pulau Langit Skypea.

Aku tengah bersiap untuk siap.
Aku mengatur rencana, menentukan tanggal.
Tak lagi ingin dikungkung bosan, aku mulai meradang.
Semuanya nampak palsu, sengaja mengoyahkan imajiku.
Heningku mulai menguat, waktu tak lagi boleh dibuang.
Aku mulai berbagi mimpi, dengan kepalaku, kakiku, tanganku, juga bahuku.
Semuanya tergambar, yang ada menghampar luas dihadapan mataku.

Aku melihat diriku melangkah meninggalkan bayang.
Kau selalu bisa membuatku meninggalkan sarangku, aku akan mengejarmu.
Tak peduli seberapa pedih akan diberi oleh petualangan.
Kemonotonan akan membunuhku, aku masih ingin hidup.
Untuk bisa terus mengejarmu.
Tunggu.


Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-