Jumat, 13 Juli 2012

Trotoar; ke mana? di mana?

Entah pengelihatanku yang semakin redup atau memang lampu kamarku yang semakin pejam.
Tiap kali terpejam lalu sejenak membuka mata, semuanya semakin terlihat kelabu, dan malam justeru terasa semakin terang. Mungkin pagi telah menjelang.
Aku mengingat, selama berjalan kaki, aku memperhatikan bahasa tubuh setiap kendaraan, juga pengendaranya, tiap kali mereka lalu lalang di sampingku.
Salip-menyalip, klakson yang terus berulang, serta deru mesin yang semakin menderu, semuanya menjadi isyarat atas apa yang ingin mereka sampaikan.


Salip menyalip bisa saja diartikan (tidak akan secara halus) "Sialan, minggir, jalan ini milikku, aku sedang terburu-buru". Lalu kenapa?! Apakah kalau terburu-buru mesti membahayakan diri sendiri juga orang lain yang bahkan tak kau kenal? Kenapa kalau kau terburu-buru? Itu urusanku? Toh bukan aku yang membuatmu terburu-buru. Mengapa buru-buru? Lihat, karenanya, kau bahkan tak menyisakan trotoar untuk kupijaki. Semua kau panjati, trotoar, pembatas jalan, dll. Mungkin setahun mendatang kelak bangunan juga akan kau panjati dengan kendaraan buru-buru mu. Atau bahkan kau akan membelah sungai Tello bila jembatan sedang padat.

Klakson terus kau bunyikan, kau pencet berulang-ulang, seakan-akan sedang menekan tombol pada stick game mu. Klaksonmu terus menerus, berulang-ulang berteriak, karena suaramu kalah oleh deru mesin mu, juga klakson-klakson kendaraan lain. Dengai itu kau merasa telah terwakili sudah teriakan "Cepat! Cepat! Minggir, sialan!" -mu. Semakin berulang suara klaksonmu, kau semakin tak sabar dan tak toleran. Semakin panjang suara klaksonmu, raungan "Setannnnnn !!!" -mu tak kalah panjangnya. Mungkin saya bukan siapa-siapa bagimu, tapi tolong, saya tersakiti oleh klaksonmu, dan kau tak mengenal saya, mengapa menyakiti saya?
Pun deru mesinmu semakin ganas meraung. Dengan bahasa itu kalian bilang, "Akulah yang tercepat. Akulah yang terhebat. Aku bisa menabrak siapa saja dan tak mati karenanya. Persetan kau, persetan keselamatan, Aku punya uang !!!" Well, aku tak punya uang, dan kau bisa saja membahayakan keselamatanku, secara fisik, maupun psikologis.

Selama ini banyak hal-hal yang selalu membahayakan nyawaku.
Dan percayalah, akan sangat menyebalkan bila kalian yang merenggutnya.
Aku hanya berjalan kaki, di trotoar, atau di manapun yang kau sisakan untukku.
Ingat, jalanan tak hanya terdiri dari aspal semata.
Batu yang menembus kaca mobil atau helm kalian juga bisa menjadi hal yang menyebalkan lho,.
paham, sialan? errr, maksud aku, kawan?
:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mengomentari :)

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-