Kamu bersabar, lalu kembali disakiti oleh mereka.
Well, sayang, dunia telah terjungkirbalikkan.
Semua permukaannya dibalikkan, dimasukkan ke dalam tanah dan menjadi inti bumi yang baru.
Sementara inti bumi yang dulu, dikeluarkan lalu menjadi permukaan yang baru, isinya berserakan di mana-mana. Kau telah melihatnya sendiri bukan? Bahkan darah tak lagi mengalir di dalam tubuh. Dengan kekejaman aparat, serta perang, darah bisa saja mengalir di selokan-selokan depan rumahmu, di tempat di mana biasanya limbah dari rumahmu dibuang.
Jangan lagi pertanyakan keberadaan moral, sayangku. Ia berada di bawah tumpukan uang yang dibuat dari campuran kulit dan darah waktu-waktu kita yang terampas.
Kamu bekerja - dimarahi, kamu tak bekerja - direndahkan.
Lalu kita membujuk hati kecil kita untuk bersabar, sementara amarah besar kita telah menggebu-gebu, mendobrak dadamu, namun masih saja kau memilih untuk bersabar.
Lalu di ujung kesabaranmu kau merasa lelah, kau merasa bosan dipermainkan, kau merasa letih diperalat.
Lalu amarahmu mengetuk.
Ya, kali ini ia mengetuk.
Ia bersabar, ia tahu waktu untuknya akan segera tiba, ia akan keluar, ia akan lepas.
Tak ada yang bisa memuaskan nafsu beringas mereka untuk mengendalikan kita, sayang. Ingat itu.
Aku hanya bisa membisikimu, "Sayangku, amarahmu adalah satu-satunya senjatamu ketika sabar dan tetek bengek etika / moral tak lagi mempedulikanmu.."
Aku mulai melangkah pergi, aku akan kembali segera.
dan kamu mulai terdiam.
"Mereka akan berhenti.." ucapmu perlahan.
Lalu kamu marah...
Aku memarahimu, aku menyayangimu, aku membencimu, aku menenangkanmu.
Selalu.
Hari Ini Kau Berusia 2 Tahun
3 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mengomentari :)