Dari balik angin aku menatap, menyaksikanmu termangu menatap langit. Kasurmu masih dingin, lantai tak jua lebih hangat, namun kau lebih memilih untuk duduk di atasnya daripada berbaring di kasurmu. Bahkan selimutmu menjadi semakin tipis, katamu kemarin. Dadamu berkembang menjadi semakin sesak, kepalamu semakin sempit terhimpit, kau merasa kesendirian berhasil menjangkitimu. Kau pun diracuni sedih.
Kau sendiri sadar, ini bukan dunia di mana pelangi itu muncul setelah unicorn berlari melintasi langit.
Baterei ponselmu saja masih lebih hangat ketimbang jari kakimu, kau betul-betul "terpaku".
Lalu kau mulai berharap agar langit malam ini segera dipenuhi rona keemasan yang hangat, semoga dinding aurora akan menyelimutimu selagi kau tidur nanti, dan juga semoga bintang-bintang membukakan gerbang mimpi lalu mengajak bulan untuk membacakanmu dongeng mengenai malam yang temaram. Bahkan siluet pohon dibalik terang bulan yang berjubahkan kabut tipis - nafas sang hutan, menjadi begitu bercahaya bagimu. Matamu mulai berkaca, dan tumpahlah.
Jendela kamarmu mulai berayun, kacanya mulai dipenuhi embun, "di luar dingin", pikirmu, dan akan begitupula di dalam sini. Kau menutupnya, sejenak mematung memandangi semuanya dari balik kaca jendela. Ini memang malam seperti malam-malam yang sebelumnya, namun terasa baru kali ini kau melewatinya. Matamu nanar, menatap dunia atas yang berpijar, semua jelas - tak samar. Menutup tirai sedikit demi sedikit, seakan enggan untuk meninggalkan apa yang ada dibaliknya, merasa enggan untuk berhenti menunggunya. "Mungkin kau memang tak mungkin muncul di malam hari", batinmu.
Aku hanya ingin tertawa dan menari bersama hujan yang terbawa di malam hari.
Lalu biarkan aku merasa hangat karena api unggun yang selalu membuat kehangatan terlihat anggun.
Aku ingin kakiku berpelukan dengan tanah yang basah, tanganku gemetaran merasai merah bagai amarah.
Di sini aku terjepit, di sini aku dihimpit, serba terkepit.
Aku merindukan ketenangan seperti aku menginginkan kesenangan yang membutuhkan keberadaanmu ketika aku bersamamu.
Tidurlah, sayang.
Selamat Malam
Hari Ini Kau Berusia 2 Tahun
3 tahun yang lalu

biarkan tirai jendela itu sedikit terbuka agar kau bisa melihat malam.
BalasHapusbermain dalam hujan, berselimut cahaya bulan.
wew, komentarnya menyenangkan :D
BalasHapussayangnya tulisan ini bukan berdasarkan atas apapun, bukan curhat, hanya rangkaian sampah-sampah kata yang kadang orang-orang buang,.
:p
NAH!!! RT banget ini, hhaa :D --> Aku merindukan ketenangan seperti aku menginginkan kesenangan yang membutuhkan keberadaanmu ketika aku bersamamu.
BalasHapus@Ummy : hhahahha yia kh? silahkan di RT kalo begitu :D
BalasHapus