Kamis, 09 Agustus 2012

Us Against The World

Meletakkan gelas air minum lalu melanjutkan rokok yang sisa beberapa kali hisap lagi. Baru saja selesai makan, atau sedikitnya, sahur. Sahur. Ya, sahur.
Aku punya banyak ingatan mengenai itu, juga beberapa manusia terkonyol yang pernah kutemui yang menemaniku di tiap sahur dan lebaran-lebaran sepi setelahnya. Banyak cerita yang telah terajut di tiap lembaran waktu dalam kurun 5 tahun terakhir ini, dan aku percaya, tak satu pun di antaranya yang sia-sia.
Aku percaya semuanya adalah kepingan terpenting dari hidupku yang membuatku kuat untuk bertahan hingga kini.
Bahwa semuanya-lah yang menjadi ruang dengan waktu-waktu yang tak terbatas yang selalu mengisi ingatan, juga dadaku. Kita dilahirkan dengan latar belakang yang berbeda-beda, dan syukur, kita mendapatkan kesempatan untuk tumbuh bersama dalam salah satu fase hidup ini. Kita mempelajari banyak hal, maka mengalami berbagai hal pula, dan pula mengajarkan kita berbagi. Kita melakukan apa yang kita inginkan, mendapatkan apa yang kita butuhkan, lalu kembali berkumpul dan tertawa.
Seperti yang mereka bilang, Life has never been sweeter...

Kesenangan kita sama, banyak malah.
Eka senang melakukan hal-hal yang kreatif, kadang konyol juga sih :D, misalnya mendandani Abdu hingga tampak mirip perempuan, persis kakaknya, menurutku :p apalagi ketika mengenakan jilbab dan baju terusanmu, eka :D
Abdu kalau tidur kakinya selalu dibasahi keringat, dan kalo lagi tidur berbaris, selalu saja pura-pura sedang bermimpi lalu menggunakan celana kita untuk mengelap kakinya -_-" sialan, sampai sekarang masih kubenci hal itu.
Amin  Nunu dan Soren selalu menghabiskan tiap menit untuk membuka diskusi dan cerita mengenai kehidupan sehari-hari. Semuanya dibahas, bahkan hingga celana dalam yang empat hari belum diganti dan dicuci atau dapur keluarga yang penuh makanan andalan.
Pasangan danga campuran, Ai, dan Eni selalu belajar dan mengerjakan tugas kuliah dengan tekun. Entah sejak kapan pasutri ini betul-betul menjadi orang jepang. Dude, kalianlah dua-duanya orang yang selalu kusaksikan tertidur dengan pensil atau pulpen di genggaman tangan serta buku atau lembaran tugas yang melapisi kepala kalian, mungkin juga mimpi kalian :D kalo saya sih lebih memilih bantal dan guling saja :p
Lalu ada pula Mamat dan  Ilham yang selalu saja membahas mengenai kuliah serta hal-hal yang berkaitan di dalamnya (menurut mereka) bahkan hingga warna serta makanan favorit ketua jurusan kami yang terhormat :D
dan yah, studi kita berantakan :D

Ada pula beberapa jam dalam sehari di mana kita bersama sama membahas dunia yang semakin meracau dan terlena. Kita membicarakan bagaimana kita diinjak-injak oleh dosen, pemerintah, juga pengusaha. Kita marah ketika menyadari sebagian besar hidup kita telah dirampas oleh mereka, hati kita sejenak beku karena alam mulai dilacurkan. Kita juga membicarakan pembangkangan, molotov, retakan di tameng polisi juga di kepala mereka, kita ingin dunia yang lebih layak huni bagi semua orang.
Kita selalu mengatakan,
"Hey, berapa jam hidupmu dalam sehari yang dirampas oleh aturan kampus? Berapa banyak dosen yang selalu menghinamu? Berapa banyak undang-undang negara yang berpihak padamu? Berapa banyak yang telah pengusaha rampas darimu? Berapa besar amarahmu untuk membalas?"

p.s : kita mempertanyakan, menggunakan "Berapa" sebagai simbol bahwa sebagian besar hidup kita tak lagi kita kendalikan sendiri.
Lalu kadang juga kita membahas generasi berikutnya serta hal-hal yang mungkin akan mereka hadapi.
Kita ingin mewariskan semangat dari amarah kita, pula menunjukkan bobroknya hal-hal yang kebanyakan orang justeru menyanjungnya.
Percayalah, hingga saat ini aku masih kewalahan, dan sejauh ini pula, aku masih gagal.
Maaf.

Kenangan jika dibalut realita kadang menyeblkan, bukan?
Sekarang kita melakukan hal seperti yang tidak kita rencanakan, kita berpencar.
Masing-masing mendalami kehidupan sendiri, namun tak putus kontak, hanya si Abdu yang sulit dijangkau, mungkin dia terlalu mahal ya? :D.
Well, dua tahun terakhir adalah awal dari perjuangan kita dengan semangat dan amarah yang kita bangun sebelumnya untuk menghadapi hari-hari usang yang bakal segera usai dan digantikan dengan yang baru.
Dunia yang lebih layak, aku masih mempercayai kemungkinannya, dan sebisa mungkin berpartisipasi dalam pembuatannya. Dan aku percaya kalian pun begitu, kita selalu seperti ini, melakukan satu hal dengan cara masing-masing. Mimpi bukannya tak terkejar, kita hanya harus berhenti sejenak unuk menghela nafas, lalu lanjut berlari.

Dan semuanya adalah kesamaan-kesamaan yang kita miliki dan kelak akan mempertemukan kita kembali di alur hidup juga tapak percakapan.

Aku mengenal kalian seperti tiap tahi lalat,
dan aku menyayangi kalian seperti tanda lahir, juga bekas luka,  yang lekat di tubuhku.
Aku merindukan kalian seperti ketika makan nasi se-ember dengan 2 bungkus mi instan.
Yah, aku masih mengingat betapa rumitnya ekspresi kita semua ketika kesulitan menghabiskannya :D

Kenangan-kenangan itu tipis namun kuat dan tak terelakkan.
Ia adalah DNA yang kita miliki, dan kita memiliki DNA yang sama.
Awalnya hanya aku, lalu lama kelamaan ada kamu, juga kalian, dan berujung di kita.
Akhir yang menyenangkan
Pada satu fase, kita berhasil membuat Bikini Bottom kita sendiri
:')

2 komentar:

Terima kasih sudah mengomentari :)

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-