Sabtu, 25 Agustus 2012

Dongeng malam

Ibu bilang, bintang itu terbuat dari lipatan-lipatan kertas masa lampau. Pun bulan adalah makan malam para keajaiban yang tak kunjung bisa dimakan sampai habis, entah karena porsinya yang terlalu banyak, ataukah rasanya yang begitu lezat hingga mereka tak tega menghabiskannya begitu saja, Ibu selalu membuatku penasaran dengan itu.


Tiap kali mengantarku tertidur, ia selalu menceritakan betapa menakjubkannya malam hari karena beberapa hal nyata dari dunia hanya muncul pada malam hari, bulan dan bintang, misalnya. Ia mengatakan ada pula legenda mengenai pantulan rona malam pada telaga dan danau pada malam hari. Katanya, kumpulan warna-warna tersebut adalah sifat-sifat kehidupan yang ada di dunia sejak langit berjanji untuk menjaga semesta beserta isinya. Mungkin saja itu sebabnya mengapa langit begitu rela menanti pagi-siang-dan sore berlalu hanya untuk selanjutnya menemani dan menjagai malam.
Ibu juga bilang, konon masyarakat dulu mengadakan kebanyakan ritual-ritualnya pada malam hari untuk menunjukkan rasa syukur atas pagi yang telah memberi kehidupan, serta berterimakasih pada malam karena telah menyelimutinya.

Pada malam hari-lah kesendirian akan betul-betul menguji kita, begitu kata Ibu.
Pagi membuat kita bugar, dipenuhi aktifitas, ataupun hanya sekedar berleha-leha, karenanya tidak memberikan bagi kita banyak waktu untuk betul-betul merasai kosong.
Lalu pada malam hari kita merasa ingin beristirahat, atau setidaknya niat awal kita selalu demikian. Nyatanya, kita justru kadang merasa bosan untuk beristirahat, lalu mengatakan, "Belum saatnya. Sedikit lagi.."
Ada yang bilang, pada malam hari, dalam beberapa detik (bahkan sepersekian) kita merasa bahwa waktu betul-betul terhenti, untuk kita. menit-menit selanjutnya bulu kuduk kita mulai merinding, menjadi lebih peka terhadap dingin yang mulai mengepung, serasa memiliki banyak musuh yang siap menerkam kita.
Lalu indera-indera kita pun turut berubah menjadi amat peka.
Mata kita hanya melihat gelap, telinga samar mendengar kehampaan, hidung hanya bisa mengendus desir angin yang makin tajam membawa aroma beku.
Hingga, waktu masih saja berhenti, memberi kita cukup lama jeda sebelum kita berani untuk menyadari bahwa kita sendirian di dunia. Tak ada aku yang lain di dunia ini, hanya aku. Begitupun dengan kita, kamu, dia, bahkan mereka.

Semua itu adalah anugerah dari malam, anakku. Begitu biasanya Ibu mengakhiri kisahnya.
Semuanya adalah petunjuk menuju pemahaman yang lebih jauh mengenai bagaimana alam membutuhkan kita untuk tetap terus ada dan membantu langit menjaga semesta ini ketika pagi-siang-sore sedang beristirahat.

Lalu ibu, katakan, apakah aku telah berhasil melaksanakan tugasku sebagai seorang nokturnal?

3 komentar:

Terima kasih sudah mengomentari :)

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-