Jumat, 12 April 2013

Hidupmu, bukan milikmu.


“ini adalah hidupmu”, katanya. Dan setiap detiknya adalah misteri, sebuah bom yang takkan kau ketahui kapan akan meledak, sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, entah kapan akan menabrak sesuatu, dan itu adalah hidupmu. Kau tak tahu kapan akan berakhir. Kemungkinannya adalah setiap saat. Ia mengucapkannya tanpa sedikitpun keraguan, ia betul-betul telah memahaminya. Rasa sakit pernah menghancurkan dirinya, dan sekarang ia berhasil berpijak dengan dirinya yang baru. Ada kagum yang kusematkan pada tatapanku untuknya.

Kita telah berhasil menemukan segala kecanggihan dan masih mengembangkannya dengan biaya yang tak terhingga. Lalu untuk apa? Untuk menghindari kerepotan-kerepotan yang timbul dari hal-hal kecil yang tak lagi bisa kita selesaikan karena waktu semakin sempit menghimpit. Kita menjadi semakin malas, bodoh, dan lemah. Dan lebih parahnya lagi, kita melakukan banyak aktifitas dengan pembenaran bahwa hal-hal itu akan membantu untuk menopang kehidupan, tapi tetap saja, aktifitas telah bergeser menjadi rutinitas di mana komoditas, persaingan, laba, dan hilangnya nilai (digantikan oleh “harga”) menjadi kerangkeng baru yang menjerat kerongkongan kita. Tak lagi ada ikatan langsung di antara manusia. Interaksi selalu diperantarai oleh hal-hal di luar diri kita, dan di bagian kecil ini-lah, kita mengerdil, menipis, seperti potongan double tip di belakang pamflet-pamflet LSM yang ingin menyelamatkan bumi dengan mengumpulkan donasi; sekarat.

Lihat saja masa kecilmu, Aria.

Ayah, aku ingin bermain bersamamu.
Maaf nak, aku tak punya waktu, harus segera bekerja. 
Ibu, bisakah aku membantumu memasak?
Tidak sekarang, ibu sedang buru-buru, harus menyelesaikan masakan ini tepat waktu, tamu-tamu ayahmu akan segera datang.
Aku berharap setelah aku tumbuh, jauh dari masa kecil aku bisa mengatakan bahwa orangtuaku membuatku bahagia.

Saat ini, sekedar pakaian takkan terasa cukup. Baju kaos murahan C45 tak lagi dianggap layak sebagai pakaian. Mesti memiliki merk sedikit lebih mahal – anggap saja delapan kali lebih mahal – untuk bisa menyebutnya pakaian. Dan itu telah menjadi gaya hidup hamper setiap orang. Segala hal yang kita kenakan seperti baju, celana panjang, jaket, kosmetik, hingga benda-benda kecil seperti sikat gigi dan pasta gigi secara perlahan menyusun simbol-simbol baru di atas tubuh kita. Ia berkuasa. Kita dikuasai oleh merk. Dan bodohnya, kita mengakui kekuasaan mereka atas diri kita. Kita telah dimiliki oleh apa yang telah kita miliki. Satu lagi penjara yang takkan membuatmu bergerak leluasa. Kita dikuasai oleh benda-benda asing di luar diri kita.

Sejenak ia mengatur nafasnya agar dapat kembali tenang.
Kita telah diracuni oleh segala hal yang mereka jejalkan pada kita, mulai dari makanan, minuman, hingga racun-racun yang membuatmu selalu bosan akan dirimu sendiri agar kau merasa tak lagi berguna selain menyembah.


Pada titik kehancuran dan kebangkitanmu, seluruh jiwaku menyertaimu.
Pada terik kebengisan Negara dan korporat, kita berdansa.
Dalam hujan teriakan amarah, kita saling menggenggam.
Kita adalah sel-sel kecil dari seluruh kebencian di bumi.
Dan kita terlahir, untuk menghancurkan mimpi mereka yang telah memperbudak kita.
Mereka yang telah merenggut segalanya dari ktia.
Orangtua, masa kecil, dan detik ini.
Kita tak lagi menjadi manusia karenanya.
Kekuatan yang kita punya saat ini berpijak pada kenangan dan amarah.
Tak perlu dengar para pemuka agama sialan yang melarang kita untuk dendam.
Kita terlahir dengan dendam di pusar.

Perlahan, api mulai menjilati dinding gedung, pula langit-langit kayu yang kian hari semakin rapuh saja.
Di luar sedang hujan.
Kita sedang berada di sebuah peristiwa penting dalam hidup kita.
Sebuah titik di mana api dan air muncul bersamaan, tanpa saling menyakiti.

Aku mencintaimu dalam bobroknya dunia yang telah mereka jadikan pabrik ini.
Mereka takkan pernah menang.
Mereka terlalu sibuk hura-hura atas keberhasilannya memperbudak kita.
Dan kita telah mengalami rasa sakit sejak lahir.
Mereka belajar untuk bertarung, dan kita terlahir untuk bertarung.
Seperti kata Tyler, “Bahkan Monalisa pun bisa hancur”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mengomentari :)

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-