Malam saja sudah larut, apalagi pikiranku yang sedari tadi mengawang-awang, larut dalam diam.
Sunyi malam ini begitu memekakkan telinga, bahkan setetes air di atas atap kamarku pun menjadi begitu heboh.
Berbaring di sisi kanan kasurku, aku merentangkan kedua tanganku ke samping. Tangan kananku menutupi kedua matanya yang begitu lekat dengan kulitku. Ia juga berbaring di sampingku, menatap langit-langit kamar. Mungkin saja ia sedang membayangkan langit-langit ruang makan Hogwarts yang berselimutkan langit dan bintang.
Ia terpingkal sejenak lalu kembali terdiam.
Mungkin saja kau mengenalinya, katanya.
Coba bacakan untukku, pintaku.
Senja mulai kerasukan, siapa kita tak lagi penting
semua telah menjelma hening.
Kita sendiri, kita ketakutan.
Malam yang dulunya kita miliki, telah dicuri.
Gelap telah lenyap, hampa seketika penuh.
Kita kedinginan, kita ketakutan.
Pagi telah mengkhianati kita,
anak tangga tak lagi terjangkau oleh langkah.
Kita hilang arah, kita ketakutan.
Kita terbangun dalam tidur, kita tidur dalam bangun.
Kita menjelma sunyi, kita ketakutan.
Langit-langit kamar serasa runtuh.
Jemari kaku, kita ketakutan.
Hidup telah terancam, dan kita tahu.
Tak lagi takut, kita marah.
Semuanya berhasil terekam dengan baik di kepalaku, celotehnya.
Oh ya? Mengapa? Tanyaku.
Mungkin karena aku aku adalah bagian dari semesta yang luas ini, karenanya
aku pun merupakan bagian dari tipisnya kertas usang dengan noda kecokelatan ini.
Dan aku pun tahu
Kau adalah secangkir teh hangat di pagi hari.
Aku adalah langkahmu yang pelan menapak.
Dan kita dua pasang lengan yang saling mendekap.

Aaaaaakkkk...lomantis na gank,,,nda bica cuui :P x)
BalasHapus-_______-
Hapussembarang
sy msih blum mngerti :(
BalasHapushahahahaa
Hapusselamat mencoba u/ mengertinya :D