Menghampiri penghujung tahun dan aku masih di sini, terlipat bersama gundukan kenangan dari segala masa.
Katanya, aku masih terus meneus bergerak dalam lingkaran, namun kali ini lingkaran itu semakin membesar, membuatku salah duga, membuatku mengira bahwa aku telah melangkah menuju tahap selanjutnya.
Aku tertipu oleh realita, aku dikelilingi sesal yang berteman sesak.
Mungkin aku akan menyakiti seseorang lagi atau bisa jadi banyak orang karenanya.
Tidak, sudah bukan saatnya untuk seperti ini, aku harus bergerak.
November kemarin tetap menyisakan sesuatu buatku, spesial.
Ia menitipkan keinginan padaku; keinginanku.
Aku tak kan peduli jika seluruh dunia bersekongkol untuk menenggelamkanku, aku takkan berhenti.
Dan kau telah lebih dahulu bepergian, mengirimkan cerita padaku, melalui amplop biru yang membuatku lebam.
Setiap ceritamu seperti musim yang silih berganti, setiap saat berubah, meski tak semuanya membuatku senang, tapi semuanya masih bisa kuterima.
Dan beberapa hari yang lalu, kau kembali melanjutkan petualanganmu.
Katamu kau hanya mampir sejenak untuk melihatku, dan memberiku cerita pengisi hidupku yang hampir terus menerus terulang, membosankan.
Katamu kau ingin pergi ke Pulau Langit
Skypea.
Aku tengah bersiap untuk siap.
Aku mengatur rencana, menentukan tanggal.
Tak lagi ingin dikungkung bosan, aku mulai meradang.
Semuanya nampak palsu, sengaja mengoyahkan imajiku.
Heningku mulai menguat, waktu tak lagi boleh dibuang.
Aku mulai berbagi mimpi, dengan kepalaku, kakiku, tanganku, juga bahuku.
Semuanya tergambar, yang ada menghampar luas dihadapan mataku.
Aku melihat diriku melangkah meninggalkan bayang.
Kau selalu bisa membuatku meninggalkan sarangku, aku akan mengejarmu.
Tak peduli seberapa pedih akan diberi oleh petualangan.
Kemonotonan akan membunuhku, aku masih ingin hidup.
Untuk bisa terus mengejarmu.
Tunggu.