Senin, 17 Desember 2012

Perempuan Taman

Pagi menjelang, kantuknya mulai meradang, hangat segera datang.
Sedari dini hari ia duduk di bangku taman. Berkawan dengan dingin, tak lagi peduli dengan panasnya  komentar setiap orang yang melihatnya duduk berselimut malam, sendirian.
"Lalu mengapa kalau aku perempuan?
Apakah menikmati kesendirian sudah merupakan tindakan kriminal?"
Sejenak ia berbaring, meluruskan punggungnya yang mulai letih, bukan karena osteoporosis.
Ia lelah, menanggung semua beban di punggungnya, terlalu berat untuk tubuh mungil nan keringnya.
Tak lagi ada yang namanya keluarga, teman perlahan menjadi kepalsuan berselimut kepedulian. Tersisa nama saja, mirip jejeran batu nisan di kuburan.
Kita bisa menghafal nama-nama yang tertera, tapi belum tentu kenal "siapa" mereka, apalagi peduli.

Semuanya mulai meletihkan, bahkan istirahatku.
Istirahatku adalah satu-satunya jeda sebelum kembali menjadi membosankan tiap hari.
Masyarakat ini memang gila.
Dan aku yang dituduh.
Sendirian.

2 komentar:

  1. @ami: hmmm tidak juga sepenuhnya mengenai itu sih.
    Sebenarnya cuma gambaran mengenai bagaimana perempuan selaku diikat oleh pandangan-pandangan moral banyak orang yang kemudian disebut "norma/adat".
    Menyebalkan :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengomentari :)

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-