Nenek Ylva pernah menceritakanku sebuah kisah mengenai para manusia penggenggam peluh.
Mereka hidup di sebuah zaman di mana pohon tak lagi ada, berganti dengan tiang-tiang yang menjulang tinggi, menyokong papan-papan reklame raksasa bertajuk pakaian dalam dengan lekuk tubuh penuh silikon. Katanya manusia tak lagi sehat, apalagi isi kepalanya.
Katanya manusia tak lagi berlengan perkasa, bahkan hanya memiliki tenaga yang amat sedikit, itupun untuk mengangguk dan mengangkat tangan. Bertahan hidup tak lagi menjadi semangat yang membakar ubun-ubun di tiap paginya. Hal tersulit yang bisa mereka lakukan adalah menggantungkan harapan hidup pada orang lain dan perubahan terbesar dalam hidup mereka hanya bisa diraih dalam sebuah kontes memilih; menjadi para penonton, pemuja, dan pemilih, tentunya. Tak ayal mereka menuhankan babi, ular, dan monyet-monyet raksasa yang naik satu persatu ke atas panggung dan membawakan hiburan dan lelucon mereka masing-masing; ada yang menceritakan kisah jenaka mengenai pendidikan yang lebih mencerdaskan, ada yang menirukan topeng monyet (jujur?) berjalan kesana-kemari dan melakukan hal-hal yang ia latih bertahun-tahun; mulai dari memalsukan sebuah kejadian, membunuh jutaan orang demi kursi kayu yang mulai reot termakan munafik, hingga memberikan kesaksian berbayar mengenai 'musuh' yang membahayakan nyawa kita semua, dan musuh itu adalah para kaum 'tidak'.
Nenek bilang mereka amat sangat penyayang.
Mereka gemar mengadakan perang hanya agar kita semua bisa menebarkan bunga-bunga yang indah di atas kuburan yang mulai disemayami pohon kamboja, di tempat hidup yang kita tinggali.
Mereka menyenangi anak kecil, tak ayal anak kecil terus menerus dipajang di layar kaca, dilatih untuk menjadi orang dewasa, karena masa kecil tak lagi menghasilkan uang, ia ingin kita berkecukupan dan mereka bergelimang binar kemewahan.
Cinta mereka selalu mereka tujukan pada ksatria pembawa bunga, laki-laki maupun perempuan, apabila mereka dengan senang hati membawakan sekuntum bunga pada sang kuasa, maka dengan riang gembira beliau akan memberikan kecupan sepatu laras, dan pelukan pucuk-pucuk senapan yang dibawa oleh para penjagal.
Dan tentunya, mereka amat bijak.
Mereka bilang bahwa mereka akan memastikan bahwa semua orang akan mendapatkan rumah, dan karenanya mereka-sembari tersenyum, dengan leluasa membongkar pekarangan rumah, kamar mandi, dan tempat tidur kita agar mereka kelak bisa membangun gedung serba ada, di mana nanti kelak kami akan menghabiskan setiap rupiah yang kami dapatkan dari pertarungan tiap hari.
Mereka betul-betul mengsejahterakan hidup kami, dan kami merasa normal.
Kami mematuhi segala aturan, tidak melakukan hal-hal yang menentang keinginan mereka, kami dengan senang diawasi setiap hari; kami senang mereka bisa menyaksikan jalan hidup kami dan tertawa, menangis, dan tersenyum karenanya.
Kami bahagia, karena mereka bisa menentukan jalan hidup kami sehingga kami bisa menghindari segala kesulitan dan hanya mendapatkan kemudahan-kemudahan, persetan dengan moyang kami yang kuat dan liar.
Bersama-sama kami mulai memperbaharui isi kamus, mengganti kata-kata yang kurang menyenangkan menjadi sedikit nyaman di telinga.
'Penggusuran' kami ganti dengan 'relokasi' , keren bukan? bahasa Inggris lho.
'Berbeda' kami hapuskan, ia adalah kata yang bertujuan untuk memisahkan, kami lebih menyukai 'seragam'.
dan 'kebebasan' menjadi kata yang begitu berbahaya bagi nyawa kami, makanya kami ganti saja dengan 'ancaman'.
Kami senang, mereka bisa mempekerjakan anak berusia 5 tahun di pabrik pembuatan sepatu yang berhasil membuatkan anak kami kado-kado hari raya dan kenaikan kelas, memerkosa para perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik cemilan yang kita nikmati di tiap sore dengan secangkir teh sembari menonton berita di televisi mengenai seorang perempuan yang digerayangi oleh majikannya di tempat kerja; salah satu bahan tertawaan bagi kita untuk mengatasi hari yang melelahkan, dan mereka, seenaknya menjadikan kebanyakan sebagai kami 'pekerja rumahan' yang tak punya rumah.
Kami adalah evolusi jutaan tahun umat manusia, dari kera-kera purba yang berjalan bungkuk - kera yang berjalan tegap, mengenal tumbuhan - manusia yang hidup dengan kelompok, gemar berburu yang memenuhi secukup mungkin kebutuhannya-manusia dengan jutaan sel-sel otak yang berkembang dengan pesat hingga ke Lubang Hitam - lalu mencapai tahap kesekian evolusi menjadi spesies dengan jutaan kemungkinan hidup yang satu jenis; mati!
#Teruntuk para spesies kera tercerdas di luar sana, selamat menyambut hidup yang semakin sempit, otak yang semakin kosong, dan hidup yang dijanjikan oleh orang lain.
Selamat menikmati segala jenis omongkosong kehidupan ala Mario Tebuh.
Semoga hari-harimu lebih menyebalkan!
Hari Ini Kau Berusia 2 Tahun
3 tahun yang lalu

ini singgungan kepada pemerintah dan dunia entertainment kah?
BalasHapusiya, dan juga terhadap manusia yang mengkerdilkan hidupnya sendiri dengan meyakini bahwa untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik, yang mesti dilakukan adalah bepartisipasi di pemilihan umum (menjadi pemilih).
BalasHapusoooo...pemilu toh,,,ahahhah..kita ikut ki pemilu gubernur sulsel?
BalasHapushhehehe
BalasHapuspertanyaannya adalah, mengapa mesti ikut pemilu?
:D
Terbuat dari apa kamu ini, mas?
BalasHapusMakannya apa sih?? :D
@anonim: kurang tahu juga dari apa :p bisa jadi dari apa yang saya makan :D
BalasHapus"proper food"