Sedikit penat, kumainkan musik dari mp3 player-ku.
Mengiringi rehatku yang hanya sejenak.
Beberapa detik kemudian, ketika musik mulai mengalun, aku memejamkan
mata. Sesaat gelap, lalu terang, namun sama hampanya. Rasanya aku tahu tempat
ini, dan aku tahu beberapa saat lagi akan bermunculan jutaan lorong menuju
masa-masa yang kuinginkan. Dan rasanya, untuk malam ini, aku ingin merajai rasa
yang takluk oleh pion-pion kenangan pada sebuah taman yang begitu kukenal, dan
sepertinya terletak tepat di belakang rumahku.
Ya, aku mengingatnya.
Kamar yang berbau lembab, aku mengingatnya hari itu ketika berkunjung
ke kost-an salah seorang teman. Nafasmu ketika sedang tertidur, aku
merasakannya mengalir di dalam tubuhku, memberi nyawa pada ingatan yang mulai
melemah. Senyummu ketika terbangun dan mendapatiku memandangimu, tadi sore aku
melihat langit yang sama, dan aku pun mematung. Saat ini aku tak bisa lari,
satu-satunya cara menghadapi serangan kenangan ini adalah dengan mengenang
serangannya, dulu dan sekarang. Menyelami angan yang kita tuangkan ke dalam
kolam di halaman belakang rumah kita adalah salah satu kegiatan favoritku di
malam hari, tepat sebelum tertidur. Aku masih menyimpan mutiara-mutiara hitam
yang kita kumpulkan darinya. Yang kau simpan, tetap kau simpan, aku akan
menyimpan yang kau titipkan. Aku pun merindukan rambut di bagian belakang
kepalamu. Tawaku, kusembunyikan di sana. Petanya, tolong kau bawa. Sekopnya adalah
bagianku.
Malam ini kubiarkan mereka – kenangan kita – keluar, beterbangan. Takjub
melihat mereka mengepakkan sayap di ruang sempit ini, khawatir mereka akan bertabrakan.
Sayap-sayap yang indah, seperti warna oranye senja ketika kita sedang berjalan,
aku mengantarmu pulang. Mereka memenuhi semua lorong yang ada, dan aku pun
merasa penuh oleh kenangan, aku penuh oleh rasa, dan aku pun jengah. Tak ada
yang bisa mengalahkan kekuatan kenangan yang memberimu energi dalam momen-momen
rapuh hidupmu. Dan kenangan denganmu, adalah pelindungku yang sempurna, sesaat –
waktu yang tepat bagi kesempurnaan – aku tak bisa mati.
Melihatnya, sekedar, aku tak lagi tahan, lalu aku menyentuh salah satu
bagian kenangan, terbang di atas kepalaku, dan aku bisa melihat lekuk
punggungmu yang indah. Palung terdalam di mana
kau biasanyamenyuruhku untuk
mengubur kesedihanku. Tameng yang melindungi kita, kau dengan ogahnya
memelukku erat dalam tidurmu. Dan kau masih saja asyik bermimpi sembari
menendang tulang kakiku. Sialan.
Oh, semuanya bermain, sakit, senang, bahagia, dan kalah, bergumul ,dan
aku mesti berlutut.
Time Jump, tak lagi sebatas
teori.
Kau tahu, seperti ucapanmu mengenai mengunci rapat semua hari-harimu
bersamaku.
Agar kelak masih bisa kau sembunyikan di dalam dirimu.
Katamu agar masih bisa menjadi bagian darimu, meski aku tak lagi ada.
Agar aku masih menjadi bagian terpenting-mu, meski kau telah jatuh
cinta pada orang lain.
Hancur atau menyatu.
Aku masih punya satu kali lompatan.
Ketika saatnya tiba, kau tak akan melihat punggungku lagi.
Sayangku.

masih blum konek... :(
BalasHapuswifi mn wifi...