Sabtu, 18 Mei 2013

Jelaga Kenangan



Sedikit penat, kumainkan musik dari mp3 player-ku.
Mengiringi rehatku yang hanya sejenak.
Beberapa detik kemudian, ketika musik mulai mengalun, aku memejamkan mata. Sesaat gelap, lalu terang, namun sama hampanya. Rasanya aku tahu tempat ini, dan aku tahu beberapa saat lagi akan bermunculan jutaan lorong menuju masa-masa yang kuinginkan. Dan rasanya, untuk malam ini, aku ingin merajai rasa yang takluk oleh pion-pion kenangan pada sebuah taman yang begitu kukenal, dan sepertinya terletak tepat di belakang rumahku.


Ya, aku mengingatnya.
Kamar yang berbau lembab, aku mengingatnya hari itu ketika berkunjung ke kost-an salah seorang teman. Nafasmu ketika sedang tertidur, aku merasakannya mengalir di dalam tubuhku, memberi nyawa pada ingatan yang mulai melemah. Senyummu ketika terbangun dan mendapatiku memandangimu, tadi sore aku melihat langit yang sama, dan aku pun mematung. Saat ini aku tak bisa lari, satu-satunya cara menghadapi serangan kenangan ini adalah dengan mengenang serangannya, dulu dan sekarang. Menyelami angan yang kita tuangkan ke dalam kolam di halaman belakang rumah kita adalah salah satu kegiatan favoritku di malam hari, tepat sebelum tertidur. Aku masih menyimpan mutiara-mutiara hitam yang kita kumpulkan darinya. Yang kau simpan, tetap kau simpan, aku akan menyimpan yang kau titipkan. Aku pun merindukan rambut di bagian belakang kepalamu. Tawaku, kusembunyikan di sana. Petanya, tolong kau bawa. Sekopnya adalah bagianku.

Malam ini kubiarkan mereka – kenangan kita – keluar, beterbangan. Takjub melihat mereka mengepakkan sayap di ruang sempit ini, khawatir mereka akan bertabrakan. Sayap-sayap yang indah, seperti warna oranye senja ketika kita sedang berjalan, aku mengantarmu pulang. Mereka memenuhi semua lorong yang ada, dan aku pun merasa penuh oleh kenangan, aku penuh oleh rasa, dan aku pun jengah. Tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan kenangan yang memberimu energi dalam momen-momen rapuh hidupmu. Dan kenangan denganmu, adalah pelindungku yang sempurna, sesaat – waktu yang tepat bagi kesempurnaan – aku tak bisa mati.

Melihatnya, sekedar, aku tak lagi tahan, lalu aku menyentuh salah satu bagian kenangan, terbang di atas kepalaku, dan aku bisa melihat lekuk punggungmu yang indah. Palung terdalam di mana 
kau biasanyamenyuruhku untuk mengubur kesedihanku. Tameng yang melindungi kita, kau dengan ogahnya memelukku erat dalam tidurmu. Dan kau masih saja asyik bermimpi sembari menendang tulang kakiku. Sialan.
Oh, semuanya bermain, sakit, senang, bahagia, dan kalah, bergumul ,dan aku mesti berlutut.

Time Jump, tak lagi sebatas teori.
Kau tahu, seperti ucapanmu mengenai mengunci rapat semua hari-harimu bersamaku.
Agar kelak masih bisa kau sembunyikan di dalam dirimu.
Katamu agar masih bisa menjadi bagian darimu, meski aku tak lagi ada.
Agar aku masih menjadi bagian terpenting-mu, meski kau telah jatuh cinta pada orang lain.

Hancur atau menyatu.
Aku masih punya satu kali lompatan.
Ketika saatnya tiba, kau tak akan melihat punggungku lagi.
Sayangku.

1 komentar:

Terima kasih sudah mengomentari :)

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-