Bintang timur
sudah nampak sedari tadi.
Malam ini
angin cukup dingin, dan aku kembali ke tengah puing kapal pecah ini.
Tempatku menghancurkan
sesuatu dan membuat sesuatu yang baru lagi.
Berbaring di
antara reruntuhan terasa sedikit lebih nyaman dari biasanya.
Dan di sini,
malam ini pula aku pun perlahan runtuh, menjadi puing-puing dari sebuah
kehancuran yang kelak melahirkan sesuatu yang baru.
Kenangan,
Begitu banyak
yang tersimpan.
Dan tak
sedikit yang kuhancurkan, agar dapat kupandangi dengan jelas.
Di kamar
ini.
Kau, dia,
dan mereka; kuhancurkan.
Mengamati segala
hal dari detail terkecil bisa memberikan pemahaman yang lebih jelas untuk
melihat keseluruhan.
Di kamar
ini, aku menjadi barbar.
Menghancurkan
segala sesuatu yang kubenci.
Di tengah
ruangan ini, aku menjadi dokter.
Membedah,
menganalisa, dan mengobati hal-hal yang
ingin kulindungi.
Dan di kamar
ini aku adalah malaikat kehidupan.
Kembali menghidupkan
semua yang telah berpulang.
Kadang, di
saat yang bersamaan,
Di sini
sepi,
Juga ramai.
Pensil, buku
sketsa, kumpulan tulisan,
Tergeletak menemani
malam yang kurindukan; sendiri.
Segelas teh hangat,
dan sebungkus rorok.
Adalah pelekat
dari satu bingkai kenangan yang kurindukan.
Dan kita
hanya bisa menyesap segelas teh sembari memandangi.
Malam masih
panjang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mengomentari :)