Rabu, 11 Juli 2012

Waktu-waktu milik kita, terpenjara

Hey, lihat, hampir semua orang tergesa-gesa, utamanya ketika malam bergulir di sela-sela embun pada kaca kendaraan umum tempatku terduduk mematung, memperhatikan semua yang ada disekeliling. Yang aku lihat, semua orang nampak letih dan ingin segera sampai ke tujuan.
Jangankan untuk peduli, untuk memperhatikan saja mereka telah kehabisan waktu. Sementara setiap milisekon hidup kita, dari pagi hingga bangun berikutnya, berubah menjadi jutaan produk yang sebenarnya tak begitu kita butuhkan. 
Tubuh kita memang telah bebas, tangan tak lagi dikekang, kaki tak lagi dirantai, bahkan punggung tak lagi dilucuti cambuk. Tapi waktu, ya, waktu yang kita miliki, hampir seluruhnya terpenjara, di balik jeruji otoritas yang dibelenggu rutinitas.
Untuk waktu yan terpenjara, kita berhak untuk marah.
Kita berhak untuk merebut kembali waktu-waktu kita yang terpenjara.
Rutinitas mesti hancur.

# sebuah catatan kala petang menjelang, pete-pete 07, pukul 18.32 WITA

Rabu, 04 Juli 2012

Amnesia

Selalu seperti ini. Kita kekurangan makanan, semuanya habis menjadi racun yang dipajang di Restoran-restoran cepat saji. Kita kehausan, mineral telah berbondong-bondong diramu menjadi cairan berisi kebohongan yang dilabeli "alami". Kita kedinginan, kala lapar menghabiskan cadangan lemak yang kita peroleh dari sampah-sampah kaum boros di drum sudut jalan. Kita kepanasan, mengingat jutaan pohon ditebang hanya untuk dijadikan pembungkus makan siang cepat saji yang menandakan bahwa kau tak lagi punya waktu untuk membuat makananmu sendiri dan menikmatinya untukmu sendiri!

Senin, 07 Mei 2012

Mayday #2


Hai, apa kabarmu tahun ini sayangku?
Gulali awan senja selalu saja manis jika didampingi oleh gumpalan amarah yang membawa harapan untuk dititipkan pada masa depan.
Cumulonimbus yang makin pekat pun membawa tangis kesedihan, ia menyaksikan bumi disiksa oleh mesin. Ia menjadi saksi bisu ketika alam dimanipulasi menjadi lembaran-lembaran uang yang terus menerus diperebutkan.

Selasa, 24 April 2012

satu-lima-lima-dinihari

"Kamu puasa", tanyanya. "Tidak", jawabku.
Ia lalu menarik nafasnya, dalam. tangannya berayun menuju meja, jarinya menari melingkari gagang cangkir yang berisikan teh hangat dengan 1 1/2 sendok gula yang larut dalam adukannya, juga lamunannya. "Aku tak mengerti dengan semua sel-sel amarah dalam darahmu. Aku tak mengetahui tempo iramanya, dan jelas aku tak tahu kapan kau meledak. Aku tak meledek", lalu ia menyeruput teh hangat di tangan kanannya dengan dingin.

Minggu, 25 Maret 2012

To: Those who dare to put their steps outside the boxes

Kiri dan kananku mulai membisu, semua palsu.
Atas dan bawahku mulai memaku, di tengahnya berserakan debu.
Aku berdiri ketika pikiranku sedang jongkok.
Aku berjongkok ketika sekelilingku sedang terbaring.

Lihat, depan dan belakang tak lagi sama.
Masih segaris memang, namun takkan sama lagi.
Maju pun takkan lebih mudah dari mundur.
melompat ataupun berlari, tetap saja anak kelelahan.

"Dia", "kalian" dan "mereka"  memulai garisnya, menetapkan satu titik di mana ia telah lebih jauh menapakkan langkahnya.
Titik itu diarahkan padaku, lalu meintaku untuk menghubungkannya dengan titikku saat ini.
Dengar, sejauh ini lah aku mendahuluimu.
Lihat, tak usah dihitung, toh kau tetap saja akan mencapainya.
Ingat, setahuku, kau paling tak ingin kalah denganku.

Ketika semuanya menjadi menyebalkan, kadang aku bosan menjadi menyenangkan.
Ketika semuanya menyenangkan, justru aku menjadi membosankan.
Tak semua permintaan bisa diwujudkan.
Permintaan membutuhkan pengorbanan, dan kita hanya memiliki sedikit saja keberanian untuk itu.
Menjadi kuat bukanlah dengan fisik yang batu serta kekar.

Menjadi kuat itu simpel, cukup miliki keberanian untuk menciptakan langkah-langkah kesempatan, itu saja.
Dan di situlah letak di mana orang menyebutnya suliit.
Tetap semangat, batuk menahun takkan menghentikanmu, tidak sekalipun aku.
Kita akan menjadi globetrotter seperti impian kita
:)

Jumat, 24 Februari 2012

Dio's Whisper

Dia lalu menjejakkan langkah terakhirnya, menuju penghujung, lalu terduduk diam di tepian waktu. Kedua tangannya lekat di permukaan, di samping kedua pahanya. Ia menatap kebawah, matanya mencari-cari, "Ia-lah sang terkasih", gumamnya. Lalu mengapa semuanya lantas melebur menjadi cahaya, silau, mata tak mampu menampung kilaunya, sejenak buta, detik itu juga ia tak mampu mendengar apa-apa?

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-