Setelah setengah jam lebih
berjalan, akhirnya ia sampai di tempat tujuan; sebuah kordinat di mana
perasaannya terbawa oleh angin dan menggerakkan kakinya beserta segepok beban
di pundaknya. Menyimpan jaket dan tas, sembari menenggak air mineral yang ia bawa
pulang tadi untuk menemani perjalanannya, dan mengurangi dahaganya. Terkadang
ia sejenak terdiam lalu memainkan botol air mineral yang dipegangnya. Ia
memegang ujungnya lalu memutar, kemudian mengguncang-guncangnya. Tak pelak air
di dalam botol itu menciptakan gelombang, lalu saling bertabrakan, dan voila; ia berhasil membuat
butiran-butiran buih persis seperti yang biasa ia lihat di laut, hanya saja
dalam versi yang lebih kecil dan sempit: di dalam botol! “Persis seperti manusia yang telah terguncang” , pikirnya. “Akan berbuih sejenak lalu menghilang entah
kemana. Semangat semacam itulah yang selama ini selalu aku peroleh - persis
setelah aku terguncang, dan terbentur pada diriku sendiri – memberiku nyala api
yang serasa takkan padam, namun akhirnya kalah juga oleh angin yang semakin
keras dan tak pandang bulu.lalu perlahan akan bergoyang kesana-kemari sebelum
akhirnya menghilang, meninggalkan sedikit bara dan asap tipis di ujung
sumbunya; namun dengan cepat meninggalkanku dalam kegelapan, sendirian . . .”
Hari Ini Kau Berusia 2 Tahun
3 tahun yang lalu
