Minggu, 27 November 2011

#1

27 November 2011
01:54 A.M

"But i'm down to my last, i'm standing here alone.
Looking back, on it all.
But i'm down to my last, i'm ready but i'm wrong.
And i'm blind to it all"
-Alterbridge / Down to My Last-

Seharusnya telah kesekian tahun yang menjadi pembatas buku untuk cerita kita, cerita yang takkan habis, atau seharusnya seperti itu, juga.
Meski tak bersama, kau tetap meluangkan waktumu untuk memahami dan merefleksi kita.
Aku sendirian di sini dan terus terbakar habis dan tak lama lagi menjadi abu.
Kau di sana, juga sendirian, berbaring lemah dengan nafas yang semakin cepat dan detakan jantung yang semakin kuat, juga airmata yang tak kunjung terputus, semoga kenangan-kenangan itu tak terpecah ke dalam tangismu, lalu kemudian mengering di bagian bahu bajumu, tempatmu biasa menghapus airmatamu.

Rabu, 02 November 2011

Welcome Home, November

Hey, sayang.
Bagaimana perjalananmu selama setahun ini?
Petualanganmu menyenangkan?
Cerita apa yang ingin kau bagikan kepadaku?
Sangat senang melihatmu datang kembali. tak sia-sia kutunggu sampai larut malam, di penghujung gerbang cakrawala yang menorehkan garisnya ketika aku mulai menguap karena kantuk tak tertahankan.
Apa kabarmu, sayang?

Sabtu, 29 Oktober 2011

Desember - ERK

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Dibalik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan dibulan desember,
Di bulan desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka

Rabu, 26 Oktober 2011

If Only

"Hey!", katanya. "Apa yang membuatmu begitu mudah meledak belakangan ini?"
"Entah apa yang mengguncang ketenanganku belakangan ini, Aku melupakan ketenangan yang dulu kau sarankan", jawabku sembari heran sendiri.
"Ayolah, lakukan hal-hal lain yang bisa membuatmu berpikir bahwa kaulah orang yang paling kesepian di dunia ini. Dan berhanti membenci sesuatu hanya karena ia tak sesuai dengan keinginanmu"

Yang dia katakan itu sama sekali tidak salah, malah berhasil menyumbat keras-kepalaku, lalu membungkam teriakan yang betul-betul menguras tenagaku.
"Maaf, mungkin memang kedengarannya mudah bagi saya untuk mengatakan ini padamu, tapi hanya ini yang bisa kulakukan untukmu sekarang.", ujarnya dengan penuh rasa bersalah.
Didera sedih yang semakin membuncah, aku, "Tak mengapa, aku tak berpikir seperti itu. waktumu memang terbatas untukku, dan itu bukan kesalahanmu. Sepertinya saya yang terlalu benyak berbuat kacau."

"Kelak, keluarga kita akan sangat menyenangkan", ucapnya dengan pipi yang memerah, "Semuanya pandai memasak. hahahaha..."
"yeah, semoga itu bukan sekedar keinginan belaka..."
Setelah itu terdiam, bersiap melangkah pergi, ia menegurku, "Hey"
punggungku tetap menghadap ke depan, perlahan kepalaku berbalik memandanginya, sungguh celaka kejadian yang membuat kita seperti ini, pikirku dengan bumbu penyesalan.
Ia melanjutkan, "Aku mencintaimu"

Kamis, 01 September 2011

Hujan dan Tipis


“unchained me, I need another chance to live..”
Raungan backingvocal almarhum The Rev pada lagu Afterlife bergaung di otakku dan juga menggema di pusat dadaku. Yah, rantai yang mengikatku memang belum sepenuhnya terlepas, ia masih lekat pada lubang di dadaku – yang semakin hari semakin membesar, pertanda aku punya beberapa detik lagi sebelum menjadi Hollow seutuhnya -  senantiasa mengintai setiap langkahku, bahkan mengentikannya – menghentakkan dirinya dan semakin mengeratkan simpulnya, sesaat sebalum kakiku merapatkan langkahnya. Aku telah mati, beribu-ribu tahun yang lalu, dan aku butuh kesempatan lain untuk hidup.

Rabu, 24 Agustus 2011

Semoga cepat sembuh; Kau dan Aku

"Ehem,."
dehemku perlahan, terlalu banyak lendir di dada, mungkin. Mungkin juga sedikit darah karena tadinya aku mendapati ludahku memerah. Sial, dia kembali, bersama bangkai yang terus membusuk dan berulat. Obat takkan pernah mampu menolong, karenanya, harus mengobati diri sendiri. Harus sembuh untuk bisa kembali menapaki jalan yang biasa kulalui, juga yang akan kulalui.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Salam Hangat


Ting . . .
Korek yang kupegang tiba-tiba terjatuh, membentur bibir gelas yang bulat, besar dan berwarna kuning. Ck, pertanda apa lagi ini. Sungguh tak menyenangkan di saat sepi dan dingin seperti ini. Dia sudah tertidur di kamarnya, tepat di sebelah, ya, di sebelah kiri hatiku, dan sangat nyenyak. Seharian ini energinya juga lumayan terkuras oleh beberapa macam aktifitas, dan semoga saja ia bisa senang karenanya. Hanya tak ingin energi yang kau lepaskan terbuang sia-sia oleh kecewa.

Jumat, 05 Agustus 2011

Belum


“Nothing is harder than to wake up all alone
Realize its not okay, it’s the end of all, you know…”
(Victims – Avenged Sevenfold)

Potongan lirik lagu yang sempat kutangkap saat bermain melalui speaker laptop yang kukecilkan volumenya ini. Malam ini terasa begitu, sepi. Tak tahu apa yang mesti kucari, tak tahu apa yang mestinya mengalihkan perhatianku darinya. Dan yah, seperti lirik di atas, aku baru saja terbangun dan mendapati diriku meringkuk di atas kasur tanpa ranjang ini; sendirian …

Selasa, 02 Agustus 2011

Hubungi Aku


“Terkadang aku tah tahu apa yang sebenarnya terjadi, utamanya pada hatiku…”
Lalu kemudian mengambil sepotong kerikil di dekat sepatunya, menggenggamnya sejenak lalu memilinnya, membiarkan kulit jemarinya merasakan permukaan kasar yang timbul, “Hmmmm.. mungkinkah hati itu seperti ini bila digenggam?”, pikirnya. Sedikit mengerang, ia bangkit dari duduknya dan membersihkan bagian belakang celananya dari rerumputan kering – potongan, helai demi helai. Sejenak ia menatap langit, “Maaf, aku tak bisa terus-terusan seperti ini. Aku tak ingin mengganggu siapapun. Aku, itupun kalau bisa, ingin menjaga dia, mereka, dan diriku saja. Tak perlu apa-apa, bahkan ucapan terimakasih sekalipun, apalagi maaf. Aku memang tak kuat, malah keinginanku untuk menjaga jauh lebih kuat dibanding fisik dan mentalku…”, bisiknya perlahan, berharap angin akan membawanya memanjat untuk menyampaikannya ke langit..

Senin, 18 Juli 2011

In Loving Memory: SOLITUDE


Setelah setengah jam lebih berjalan, akhirnya ia sampai di tempat tujuan; sebuah kordinat di mana perasaannya terbawa oleh angin dan menggerakkan kakinya beserta segepok beban di pundaknya. Menyimpan jaket dan tas, sembari menenggak air mineral yang ia bawa pulang tadi untuk menemani perjalanannya, dan mengurangi dahaganya. Terkadang ia sejenak terdiam lalu memainkan botol air mineral yang dipegangnya. Ia memegang ujungnya lalu memutar, kemudian mengguncang-guncangnya. Tak pelak air di dalam botol itu menciptakan gelombang, lalu saling bertabrakan, dan voila; ia berhasil membuat butiran-butiran buih persis seperti yang biasa ia lihat di laut, hanya saja dalam versi yang lebih kecil dan sempit: di dalam botol! “Persis seperti manusia yang telah terguncang” , pikirnya. “Akan berbuih sejenak lalu menghilang entah kemana. Semangat semacam itulah yang selama ini selalu aku peroleh - persis setelah aku terguncang, dan terbentur pada diriku sendiri – memberiku nyala api yang serasa takkan padam, namun akhirnya kalah juga oleh angin yang semakin keras dan tak pandang bulu.lalu perlahan akan bergoyang kesana-kemari sebelum akhirnya menghilang, meninggalkan sedikit bara dan asap tipis di ujung sumbunya; namun dengan cepat meninggalkanku dalam kegelapan, sendirian . . .”

Jumat, 08 Juli 2011

Kepingan Diri #1

Kuroi,
Mengapa kau masih saja terdiam bersama langkahmu yang terhenti?
Mengapa kau masih saja terpenjara oleh pikiranmu yang juga terpenjara?
Kau sendiri sudah tahu kalau ini waktunya kembali bergerak mengikuti hukum alam.
Mengikuti tuntunan mimpimu yang sudah sedikit demi sedikit menjelang waktunya?
Sebaiknya kau melakukan sedikit pemanasan dan mulai melengkapi persiapan.

Rabu, 06 Juli 2011

Hey, Kuro!

“So come close, this is who we are
Come on you can be yourself
So come close, this is who we are
Come on you can be yourself again “
Yah, malam, atau tepatnya gerbang menuju pagi ini, lagi-lagi kutuntun dengan lagu yang belakangan ini semakin kejam menghentak. Kau jauh. Secara nyata, maupun maya. Sialan, aku paling sering terjebak dalam situasi penuh kebodohan seperti ini. Tak pernah kuminta apapun darimu selain untuk mendengarku dan membiarkanku seperti ini.

Senin, 04 Juli 2011

Hey, Jangan Kau Baca yah?

Aku pernah memiliki ribuan malam, lengkap dengan jutaan cerita tiap malamnya, juga dekapan angin yang hilir mudik di tiap tempat yang kudatangi. Entah aku sedang duduk, berjalan, berlari, ia selalu ada bahkan ketika aku sedang tak melakukan apa-apa.
Aku saja heran mengapa ia begitu setianya menemaniku, ia hampir tak pernah melepasku, namun ia juga hampir tak pernah membuatku tak kedinginan. Menyakitiku sekaligus menemaniku, hm, setidaknya aku harus sedikit bersyukur akan itu.

Lapar

Apa yang begitu benar bagiku hingga kau harus memohon maaf padaku?
Apa yang begitu sempurna dariku hingga kau harus merasa cacat di hadapanku?
.
Sudahlah, mungkin memang hal yang tak kau ucapkan itu tak ada hubungannya denganku.
Semua kesibukanmu mungkin tak ada kaitannya sama sekali denganku.

Sabtu, 02 Juli 2011

I'm Alive - Story of the Year

In the night I sit alone
Lifeless to the world I know
Faith loss long ago
In this graveyard I'm calling home
Carved into the stone
A diary of broken bones and
Words I should've known

Holding on to You - Story of the Year

Another year is gone so fast
Another life becomes the past
Under the weight of dreams
That I never thought would last
Feelings clash
And set a light across the globe
This window seat becomes my home
I lie awake for hours
Staring at the world below

Should i?

Should i stop doing this?
Should i declare that i'm out of here?
I wish u were here,
so i can whisper it in ur very own ear.
Whatever i feel onto you,

I'll Come, for sure

Hey,
sudah se-lama apa kau menghabiskan keringatmu untuk yang satu ini.?
sudah se-banyak apa letih yang harus kau bayar dengan istirahat yang ogah-ogahan.?
sudah se-sering apa kau lupa pada kebutuhan tubuhmu sendiri.?

“And this is the moment I live for, I can smell the ocean air. Here I am, pouring my heart onto this rooftops, just a ghost to the world, that exactly, exactly what i mean.”
(Story of the Year – Anthem of Our Dying Day)

Demikian barisan lirik dari lagu yang kudengar dini hari ini. Masih juga belum bisa merapatkan mata ke layer-layer mimpiku. Sebenarnya mataku sudah memerah-meretak ditengah. Sekujur tubuhku sedikit letih oleh beberapa hal yang kusadari sedari kemarin. Aku masih belum bisa memberimu banyak. Aku bahkan belum tahu dimana kau biasa menetap, dan seperti yang kau katakan, aku takkan bertanya pada siapapun. Dalam novel “Sang Alkemis” karya jenius Paulo Coelho, ia menuliskan sepaket kata yang kira-kira bunyinya seperti ini, “Jika kau sangat menginginkan sesuatu, maka alam raya akan bersatu untuk membantumu meraihnya”. Dan aku sangat membutuhkan bantuannya saat ini.

Seperti yang kubilang, sudahi saja semua pembatas yang ada. Hentikan segala “terimakasih” dan “maaf”, kita masih bisa saling mengerti, dan kita takkan pernah sendirian. Entah mengapa, kau malah mulai merambah ke wilayah mimpiku untuk bertualang. Aku berharap bisa menemukanmu di tengah-tengah perjalananku, saat aku sedang sekarat, ransum telah tak tersisa, keletihan, dan kehilangan arah, aku berharap mungkin saja kau sedang bepergian pula ke tempat di mana aku berada saat itu dan kebetulan bertemu denganku di sudut jalan. Sungguh, kuharap kau-lah yang bisa menjadi P3K saat itu.

Aku senang kau bisa menyelami aktifitas yang menyenangkanmu. Aku akan mendukungmu sepenuhnya, meski saat ini masih ini yang bisa kulakukan. Bersabarlah, kumohon, aku masih butuh waktu untuk membenahi diriku, namun bukan untuk menjadi sempurna. Aku hanya ingin bisa melakukan hal-hal yang kuinginkan dan kubutuhkan. Aku bahkan tak ingin memakai kata-kata megah untuk mengatakan semua ini padamu. Aku ingin kau bisa mendengar dan membacaku, akupun sedang melakukan hal yang sama terhadapmu.

Tak usah bertanya “Siapa?”
Jangan tanyakan “Mengapa?”
Semua ini memang terjadi karena sebuah alasan, namun sayangnya, aku takkan pernah tahu, sepertinya.
Dan dalam masalah ini, alasan memang takkan dibutuhkan.
Karena untuk yang satu ini alasannya simple dan apa adanya.
Hanya karena, “aku memang mencintaimu”
Terdengar sepele dan lancang di telinga-telinga mewah, namun setidaknya, ini yang menjadikan kita tetap manusia.
Dan persetan semua pendapat orang mengenai apa yang kurasa ini.

P.S: aku menerima tantanganmu, dan terimakasih karena tidak memberikanku batasan waktu untuk berproses, hal ini yang sampai sekarang jarang kudapatkan dari orang lain.
Kau memang bukan orang lain.
Kau dekat.
Kau menyenangkan.
Dan menenangkan.
Terimakasih.
Ganbaree...
J

Kamis, 30 Juni 2011

:)

Tak usah bertanya bagaimana tetes hujan bisa menguap menjadi embun subuh bagai kristal dedaunan yang langka, kemudian tergerus cahaya yang terpecah..
Tak usah bertanya mengapa matahari tak pernah lelah mengingatkanmu akan pagi yang hangat di penghujung bulan keenam yang masih saja bisa membuatmu tersenyum..
Tak usah heran melihatku terbenam dalam sengsara sirkulasi hidupku yang hampir monoton, hampir tanpa kesenangan, belakangan ini, seandainya kau tak membuatku terkekeh kecil...
Jangan heran bila kau menemukan seseorang dengan berbagai ketakutannya sendiri, dan jangan heran jika ia termotivasi untuk mengalahkan ketakutannya, bukan untuk menjadi berani, hanya semata karena ia tertantang untuk mengalahkan ketakutan
Jangan lagi pernah bertanya padaku, jawabannya sudah jelas…

Sudah kubilang, itu kau…
Terimakasih…

#np: "Warmness on the Soul - A7X
"

Jumat, 24 Juni 2011

Come, Vengeance

This is it?
Is here where i will stop?
Will i lay down here waiting for death to come home?
Will my spirit burn out right before your eyes?
It's not time that betrays me,
it's my own hope...
Oh, will you come to me, Vengeance?
I need your power, dear...
Feed me, keep me, stay with me...
Make me stronger...
So strong that i will stand still when reality knocks out,
and leave me in despair...
So strong that i will stop hanging my hope onto something,
right before i'm about to drown...
So strong that i will stay awake,
While i'm dead...
So strong that even Love wont hurt me,
and none will gets in me anymore...

Only you understands me and my desire...
Come now, Vengeance...
I'm all alone...

Kamis, 23 Juni 2011

Perkamen Pagi Buta

Untukmu yang sering tersakiti, atau pernah disakiti dengan luka yang menyayat dalam, lalu membengkak, mengering, gatal, dan membekas . . .

Untukmu yang pernah-sedang-telah dibuat menunggu, tanpa sedikitpun kabar, tanpa sedikitpun pijakan untuk berdiri setelah kau dijatuhkan, tanpa sekotak tisu untuk menyeka airmatamu yang sebenarnya kau teteskan percuma seandainya tak melegakanmu, tanpa sepasang tangan yang meraihmu ketika kau oleng dan terjatuh di tanah, kepalamu terbentur, kau tak sadarkan diri dengan berbagai luka di ingatanmu,   dan satu sakit di hatimu . . .

Iris #1

Seharian ini amat banyak kesenangan yang kulalui tanpa rencana dan persiapan sebelumnya, seperti biasa, aku hanya bisa termangu, menikmati semua sensasi di dalam dadaku, tanpa berkata sedikitpun. Aku selalu percaya, dengan cara ini, terkadang jauh lebih terasa, kesenangannya seakan berlipat hingga melebihi lipatan langit tadi sore, dan lebih banyak senyum yang kulihat dibanding bintang-bintang yang bertetangga di atas sana.

Senin, 20 Juni 2011

Aku Sudah Mati

Tak perlu kubuka tulisan ini dengan ucapan atau sumpah serapah apapun.
Lidahku kelu, otakku melepuh, dan hatiku berteriak keras.
Ini bukan masalah "menjadi" yang biasa kau umbar.
Aku tak berminat...

Entah sekeras apa harus kuteriaki telingamu agar kau mendengar.
Entah sejauh mana matamu harus kucingkil agar kau bisa melihat.
Entah sedekat apa hatiku harus kusandingkan dengan hatimu agar kau merasai resonansi detakannya.
Entah seberapa berat nafasku yang harus kuhembuskan agar kau menghirupnya
Memasuki kerongkonganmu yang tersumbat keserakahan,
dan semoga saja mencapai hatimu yang diselimuti kabut ketidaktahuan...

Kau menciumku, sebelum mengantungi nafasku,
dan membuatku percaya,
bahwa Iblis adalah makhluk terindah yang pernah ada...

Minggu, 19 Juni 2011

Re-trace my own breath

Kakiku sedikit kram, juga hatiku.
Tubuhku gemetaran, juga jiwaku.
Aku sepertinya sedang tak jelas (lagi). Pantulan wajahku di cermin mengiyakan.
Aku sedang tak sadar, "Tepat", teriak mataku yang mulai sedikit membelalak, ingin menyalak.
Aku sedang tidak bersabar...

dan aku,
sedang diminta untuk menunggu...
momen yang bisa saja menjadi yang terakhir kalinya.
yah, hari ini, pukul 14.00, katanya...

dan aku sedang tidak berselera untuk menulis...
Aku hanya ingin mengingatkan diriku...
Apa yang sedang aku lakukan...
Menjelajah menembus malam, pagi dan sore hari...
Untuk menghirup ulang nafasku yang terbuang-tercaci kontaminasi...
untuk kembali mengumpulkan kepingan diriku, dan bertanya pada diriku...
Siapa kau sebenarnya?

Kamis, 02 Juni 2011

Time on My Own

Karpet ini agak dipenuhi debuhingga warna merahnya tak mampu lagi berujar tegas.
di atasnya beberapa kabel menjalar-melintang
dengan sedikit mendesis, kipas angin memuntahkan kesejukan,
agak membuatku sedikit dingin, sebenarnya..
 

Rabu, 01 Juni 2011

So, Dear . . .

Dia berbisik, "sayang,  maaf , kali ini aku harus pergi. Dan aku takkan kembali sebelum aku betul-betul siap untukmu."
Dan sejak semalam, ia betul-betul pergi, ia bahkan tak menyisakan satupun langkah untuk kudengar derapnya. Jangankan itu, aku bahkan tak sempat melihat tungkai kakinya mengayunkan langkah, bagaimana mungkin, ia menyatakan untuk pergi di seberang sana, sebuah tempat yang terhubungkan oleh transmisi seluler menuju tempatku; ia di rumahnya. Dan ya, ia meneleponku. Ia meneleponku sampai pulsanya habis mendahului kata-kata yang ingin diucapkannya. Dan setelah itu aku tak menghubunginya lagi.
Tidak hingga siang ini . . .

Selasa, 31 Mei 2011

C yaa Later



Kali ini terbangun dengan perasaan sakit yang terbawa dari mimpi. Entah se-buruk apa mimpi yang kualami semalam, aku sudah lupa. Sejak terbangun tiba-tiba aku kebingungan mencari sesuatu yang tak kutahu persis apa. Sakitnya masih terasa hingga saat ini, dan pastinya akan membawa keburukan selama beberapa hari. Menghancurkan persediaan endorfin yang tersimpan. Sepertinya aku akan butuh banyak cokelat. Maksudku, amat banyak!

Senin, 30 Mei 2011

Maaf

Akh, masih saja terkungkung, masih terpenjara, di rasa yang sama. Padahal seharusnya sudah bisa merobohkan tembok penjara rasa dan bisa keluar dengan tenang. Tapi tetap saja banyak halangan, ini-lah, itu-lah, apa-lah. Sialan! Untuk semua yang pernah kita alami, persetan semuanya! Mohon disobek, letakkan dalam kaleng bekas ikan sarden semalam, lalu bakar dan letakkan di depan kamar, di atas tembok yang biasa kau duduki, lalu kau, duduklah tepat dimana pintu biasa membuka-menutup, dan saksikan perlahan, sampah-sampah itu menyala, kuning bergaris merah dari tengah hingga di luarnya. Anggap saja ia kunang-kunang semasa mati lampu, yang sering kau kagumi selayaknya semug teh hangat kesukaanmu, dan -ku.

Selasa, 10 Mei 2011

Just . . . Try to read me


 “Kau pasti bisa . . .”
kalau aku bisa, takkan kubuat semuanya serumit ini.
kalau memang bisa,kau takkan perlu mengeluh dan malas untuk memikirkan.
kalau akan bisa, setiap pijak yang kulangkahkan takkan membawaku semakin dekat padamu, justeru menjauh.
Kalau mampu “bisa”, setiap detik yang kuhabiskan saat merenung takkan sedikitpun menyibakkan punggungmu.
Dan kalau pasti bisa, aku takkan se-gila ini.
sok tahu !

Minggu, 01 Mei 2011

Black_Sky#2

Sebuah kotak kardus berisikan nestapa dan duka ia rekatkan dengan lakban. Lalu kemudian menutupinya dengan kertas cokelat, penuh debu, sejenak ia hentakkan, lalu ia tiup-terbangkan ke segala kordinat. Kain lusuh yang sekian lama selalu mengelap keringat dan bekas-bekas noda lain di tubuhnya kemudian ia gunakan untuk mengelap sisa-sisa debu yang masih keras kepala. Sedari 27 menit yang lalu itu, ia hanya melakukan aktifitas itu. Dengan sesekali tersenyum, lalu dengan cepat menjelma menjadi tangis, secepat seseorang berdiri, segera setelah jatuh didepan khalayak ramai nan sunyi. Ia adalah wanita, yang telah mengakrabkan diri dengan perih dan pedih selama kurang lebih 8 bulan.

Selasa, 26 April 2011

Black_Sky #1

Sejenak, sebuah koper kau letakan tepat disamping kaki kananmu.
mengibas-ngibaskan kedua tangan dan menguap.
aku butuh segelas teh, katamu.
seberapa lama kau akan meminumnya? kataku
entahlah, aku hanya ingin menikmatinya, katamu, pesek.
baiklah.
- "berjanjilah kau akan tinggal" . . . 

- "pasti, harus kemana lagi aku?



Sekarang, mau dibilang senang, tak bisa karena ego masih menganggu,
Mau dibilang sedih, tidak juga, karena senyumku sudah kembali melamar embun.
Mengapa selalu ada penengah saat sedang tak ingin ditengahi?
Mengapa selalu ingin memiliki, sementara yang kumiliki hanyalah diriku saja?

- "sekarang apa?"

- "momen apa yang membenturmu?"

Minggu, 03 April 2011

Tidak sekedar basah

Hujan telah berhasil mengepel tubuhku
juga sedikit kegundahan telah ia hanyutkan
tepat di got pinggir jalan saat ia digenangi lumut, air, dan sampah
serta disenangi pecandu hujan sepertiku


mengapa mesti munafik jika memang ini yang sedang kita ingini?
mengapa mesti berbohong jika sedikit jujur akan mengurangi beberapa perih kemudian?
dan mengapa sukar menjawab "mengapa"?

Sabtu, 02 April 2011

Untukku yang sedang "Entah"

Hei, bangunlah, senja tak lagi muda
Malam akan segera lahir, diiringi sayap-sayap imaji
Melantunkan angin dan udara malam
Khas siklus hidup kalong yang kau adopsi.

Untuk sejenak saja, biarkan aku sendiri

Sesekali aku menengadah ke langit-langit
Berharap yang berada di ujung pandangku itu adalah langit nyata
Dan semoga ketidakjelasan yang melanda menjadi satu kejelasan

Entahlah

Wew, cukup lama tak menulis sesuatu,.
cukup lama pula muak, benci, caci-maki dan gundahku kubiarkan terendam kesibukan,.
Entah kegilaan semacam apa ini,.

Senin, 17 Januari 2011

Satu Tanya Oleh Gemuruh Jiwa

Hutan, Ladang, dan Senyum Bahari kita...
Telah di tukar dengan beberapa ikat kertas...
Gedung-gedung pencakar langit...

Ultimatum Untuk Sang Jenderal

Bermula dari konspirasi anjing si tuan tanah
kenistaan dan penghancuran pun berjalan
berderap bersama langkah ketidakadilan
ditengah tatapan tajam mata para pecundang
hidup dan impian kami pun, luluh-lantak

Bongkar sana - bongkar sini

Bongkar,.
Bongkar,.
Bongkar,.
Disana-sini rumah kami di bongkar,.
"mau bikin mall, kamu pindah di pinggir comberan saja" katanya

07-09-10

Delapan orang yang berbeda, dengan kegundahan yang berbeda, beban otak yang tipis bedanya, dalam satu ruangan yang sama,
menghirup udara yang sama disetiap tarikan nafas yang bergantian, berirama, beriringan, saat berbeda aktifitas.
Biarkan saja semuanya melangkah,.
kau juga punya kaki, bukan?
maka ambillah satu langkah kecil,.
biarkan ia menimbuLkan getaran besar,.
seperti deru mesin-mesin besar yang terus membangun gedung-gedung tinggi,.
sementara banyak orang-orang keciL tak bergedung,.

Apa Lagi ?

apa lagi yang mesti ku tulis?
aku sudah muak menulis kemuakanku,.
bosan membicaraan kebosananku,.
mulai letih merasai keletihanku,.
marah menyulut kemarahanku terus menerus,.
jadi harus menulis apa lagi?

LA GALIGO : Named After Dreams

“ Aku tak tahu bagaimana menjalani hidup…
Bila tak ada seseorang yang bisa kuajak berbicara, dan ia benar-benar mendengarkan…
Bila tak ada kau yang turut merangkai mimpi saat kuceritakan impianku padamu…
Bila tak ada yang memberiku air minum saat kelelahan, lalu menyapu punggungku yang dipenuhi rumput, perlahan…
Bila tak ada kalian, memainkan gerak dan bebunyian hidup, yang biasa kita sebut ‘Lagaligo’ ”

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-