“Terkadang aku tah tahu apa yang sebenarnya terjadi, utamanya pada hatiku…”
Lalu kemudian mengambil sepotong kerikil di dekat sepatunya, menggenggamnya sejenak lalu memilinnya, membiarkan kulit jemarinya merasakan permukaan kasar yang timbul, “Hmmmm.. mungkinkah hati itu seperti ini bila digenggam?”, pikirnya. Sedikit mengerang, ia bangkit dari duduknya dan membersihkan bagian belakang celananya dari rerumputan kering – potongan, helai demi helai. Sejenak ia menatap langit, “Maaf, aku tak bisa terus-terusan seperti ini. Aku tak ingin mengganggu siapapun. Aku, itupun kalau bisa, ingin menjaga dia, mereka, dan diriku saja. Tak perlu apa-apa, bahkan ucapan terimakasih sekalipun, apalagi maaf. Aku memang tak kuat, malah keinginanku untuk menjaga jauh lebih kuat dibanding fisik dan mentalku…”, bisiknya perlahan, berharap angin akan membawanya memanjat untuk menyampaikannya ke langit..