“And this is the moment I live for, I can smell the ocean air. Here I am, pouring my heart onto this rooftops, just a ghost to the world, that exactly, exactly what i mean.”
(Story of the Year – Anthem of Our Dying Day)
Demikian barisan lirik dari lagu yang kudengar dini hari ini. Masih juga belum bisa merapatkan mata ke layer-layer mimpiku. Sebenarnya mataku sudah memerah-meretak ditengah. Sekujur tubuhku sedikit letih oleh beberapa hal yang kusadari sedari kemarin. Aku masih belum bisa memberimu banyak. Aku bahkan belum tahu dimana kau biasa menetap, dan seperti yang kau katakan, aku takkan bertanya pada siapapun. Dalam novel “Sang Alkemis” karya jenius Paulo Coelho, ia menuliskan sepaket kata yang kira-kira bunyinya seperti ini, “Jika kau sangat menginginkan sesuatu, maka alam raya akan bersatu untuk membantumu meraihnya”. Dan aku sangat membutuhkan bantuannya saat ini.
Seperti yang kubilang, sudahi saja semua pembatas yang ada. Hentikan segala “terimakasih” dan “maaf”, kita masih bisa saling mengerti, dan kita takkan pernah sendirian. Entah mengapa, kau malah mulai merambah ke wilayah mimpiku untuk bertualang. Aku berharap bisa menemukanmu di tengah-tengah perjalananku, saat aku sedang sekarat, ransum telah tak tersisa, keletihan, dan kehilangan arah, aku berharap mungkin saja kau sedang bepergian pula ke tempat di mana aku berada saat itu dan kebetulan bertemu denganku di sudut jalan. Sungguh, kuharap kau-lah yang bisa menjadi P3K saat itu.
Aku senang kau bisa menyelami aktifitas yang menyenangkanmu. Aku akan mendukungmu sepenuhnya, meski saat ini masih ini yang bisa kulakukan. Bersabarlah, kumohon, aku masih butuh waktu untuk membenahi diriku, namun bukan untuk menjadi sempurna. Aku hanya ingin bisa melakukan hal-hal yang kuinginkan dan kubutuhkan. Aku bahkan tak ingin memakai kata-kata megah untuk mengatakan semua ini padamu. Aku ingin kau bisa mendengar dan membacaku, akupun sedang melakukan hal yang sama terhadapmu.
Tak usah bertanya “Siapa?”
Jangan tanyakan “Mengapa?”
Semua ini memang terjadi karena sebuah alasan, namun sayangnya, aku takkan pernah tahu, sepertinya.
Dan dalam masalah ini, alasan memang takkan dibutuhkan.
Karena untuk yang satu ini alasannya simple dan apa adanya.
Hanya karena, “aku memang mencintaimu”
Terdengar sepele dan lancang di telinga-telinga mewah, namun setidaknya, ini yang menjadikan kita tetap manusia.
Dan persetan semua pendapat orang mengenai apa yang kurasa ini.
P.S: aku menerima tantanganmu, dan terimakasih karena tidak memberikanku batasan waktu untuk berproses, hal ini yang sampai sekarang jarang kudapatkan dari orang lain.
Kau memang bukan orang lain.
Kau dekat.
Kau menyenangkan.
Dan menenangkan.
Terimakasih.
Ganbaree...
J