Aku suka, aku nyaman, dan aku tenang, maka aku berjalan kaki.
Aku berjalan kaki, aku sendirian, headsetku terpasang, aku dibilang orang angkuh yang penyendiri.
Aku menolak diberi tumpangan, menolak diberi uang angkot oleh orang tak kukenal, aku dikatai tidak modern, tak tahu cara berterimakasih - aku hanya berhati-hati terhadap jejaring.
Aku melakukan yang membuatku merasa hidup, kalian mengatai aku mati.
Aku menulis, kalian merajai - membacaku.
Aku bebas, kalian kebas, pada kalian aku muak, padaku kalian mendongak.
Kalian mencaci, kalian memaki, kalian mengusik, kalian menyumpahi, kalian menggosipi, kalian membenciku, dan aku, TAK PEDULI..
Kalian kira aku tak bisa hidup tanpa bergantung pada kalian?
Kalian kira setiap detik yang kuhabiskan sendirian tanpa kalian adalah buang-buang waktu?
Kalian kira kalian yang mengatur nafasku?
Pikirkan kembali!
Aku menemani kalian, aku tak minta dibayar, aku tak minta disuguhi rasa hormat.
Kalian meminta, maka aku mengingatkan.
Tatkala aku sejalan, kalian menjadi temanku.
Jikalau aku beda, kalian adalah musuhku.
Percayakah, aku lebih suka sendirian dan menyayangi diriku sendiri ketimbang menjadi palsu dan lupa akan diriku dan potensinya.
Kalian mencaci - maka aku mulai mencari.
Kalian memaki - maka jalan-jalan sepi kutapaki
Kalian mengusik - maka telinga tak lagi tertarik
Kalian menyumpahi - maka aku mengasihani
Kalian membenci - maka aku menyayangi.
Hukum dasar aklemis, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, harus mengorbankan sesuatu yang bernilai sama.
Dan aku, tak menyesal, sama sekali.