Ah, senang juga, akhirnya bisa berbaring di bukit melankolis ini.
Tanah yang lembab berbaring bersamaku, jemariku menari mengikuti ayunan
rumput yang menghampar di sekelilingku. Menatap langit di bawah bayang teduhnya
pohon jambu memang menyenangkan. Sedikit memicingkan mata, serasa ada yang
aneh. Aku melihat wajahnya terlukis di gumpalan awan yang perlahan berarak
menjauh.
Beberapa hari berlalu, aku masih di sini, menatapnya dalam rindu.
Melamun dalam lelah membuatku tertidur.
Aku mendekap hangat yang ia titipkan.
Semoga ketika kuterbangun, ia ada di sampingku.