Senin, 17 Januari 2011

LA GALIGO : Named After Dreams

“ Aku tak tahu bagaimana menjalani hidup…
Bila tak ada seseorang yang bisa kuajak berbicara, dan ia benar-benar mendengarkan…
Bila tak ada kau yang turut merangkai mimpi saat kuceritakan impianku padamu…
Bila tak ada yang memberiku air minum saat kelelahan, lalu menyapu punggungku yang dipenuhi rumput, perlahan…
Bila tak ada kalian, memainkan gerak dan bebunyian hidup, yang biasa kita sebut ‘Lagaligo’ ”



Kita bahkan tak cukup kenal, belum cukup dekat untuk bisa saling menghafal tanggal lahir dan tanah kelahiran. Belum! Jangankan itu, nama saja masih sering kita lupa. Tapi mengapa rasa yang kita rakit sendiri memiliki sensasi yang rasanya menyamai banyaknya endorfin yang diperoleh saat tengah sibuk merajut impian?

Entahlah, kadang kita menjengkelkan pada saat menjalani sebuah momen. Tapi sekarang, cobalah kau ingat momen itu, maka aku tak bisa menjamin kalau senyummu takkan merekah, aku tak bisa bertaruh kalau kantung mata kalian tak kebanjiran, dan aku takkan pernah bisa mengatakan kalau degup jantung kalian takkan cepat lalu lambat laun menjadi tenang,; perlahan – dan menginjeksikan sebotol kedamaian pada sisem sarafmu dan memacu adrenalin lebih cepat lagi, untuk berimajinasi lebih kuat lagi…

Hey, sepintas, kelihatannya aku memang tidaklah secara langsung menjadi bagian dari kalian. Aku ini hanya taburan gula bubuk pada sepotong donat, dan kalianlah donatnya! Aku hanyalah ingatan dari masa yang berbeda dan telah berlalu, menjadi lampau, dan mulai agak usang. Tapi tak jua kusam. Yeah, aku hanya ingin kalian mendapatkan kesempatan untuk melakukan dan merasakan kebodohan-kebodohan yang dulu dilarang, padahal sangat menyenangkan… menenangkan… dan juga… mengenyangkan!

Aku tahu, hampir setiap berkumpul dan latihan menjadi “waktu-waktu yang terbuang” bagi kalian, dimana mood kalian dibunuh dan terbunuh –tak berjejak- , menjadi sebuah kain kumal yang menghapus senyum-senyum kalian; total, tanpa tersisa, lalu akhirnya wajah kalian akan mengerut seperti kertas - yang awalnya ingin ditulisi sesuatu namun karena merasa ada yang kurang tepat, entah apanya, lalu sekonyong-konyong diremukkan ke genggaman jemari dan di-shoot ke tempat sampah -.

Yeah, aku tahu, aku juga pernah menjalaninya, hanya saja sedikit lebih parah. Tapi kuputuskan untuk melaluinya juga, karena bagiku momen seperti itu adalah sebuah ruang hampa waktu dimana sejenak aku bisa mengesampingkan berbagai rasa dari masalah-masalah di luar yang singgah; lekat dalam diriku. Meski hanya untuk sepersekian detik, hanya dengan bergerombol melakukan hal-hal bodoh sampai pongah, saling menertawai ataupun mengerjai atau meneriaki, bahkan tak melakukan apa-apa..
Yep, se-sederhana itu saja, kurasa.. cukup seperti itu saja…
Tapi sekarang, coba kalian ingat rasanya…


Let us wash your burden away
And then show you something named after “dreams”
Growing even more sronger and taller, deep within
All you can feel here is just peace and happiness, not much
Lets draw our very own dream and then try to keep it up
If you fail once, don’t give it all up, try again!
Ground will still solid enough for you to step on
Over and over again..


N.B : “   Tributed to all of the dreams..
That spread its wing..
And started to fly..
In 2010 …”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mengomentari :)

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-