Minggu, 15 Juli 2012

V for Vendetta

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca soft tile buku karya Alan Moore dan David Lloyd yang berjudul V for Vendetta (download di sini http://novels4you.blogspot.com/2012/03/v-for-vendetta.html). Bagus, namun bahasanya masih kurang sulit kupahami, apalagi dengan aksen "British" yang kental, namun tetap saja kubaca dan setidaknya garis besar novel bergambar itu kupahami. dua tahun setelahnya, teman saya, Ekbess (yang baik hati dan tidak makan sabun :D) memiliki bukunya, lalu kupinjam selama dua minggu (iyo kah? :D).
Setelah membacanya dalam bentuk fisiknya yang keren itu ^^ akhirnya saya mulai memahami bagian-bagian penting yang ingin kuketahui, juga bagian-bagian yang ingin disampaikan oleh Om Alan dan Om David (atau setidaknya beitu yang kutangkap :p).
Berikut beberapa kutipan percakapan favoritku, tapi percayalah, semua percakapannya bisa jadi favorit :D

What are we ?

Terduduk di atas genting rumah, lalu sejenak merebahkan diri. Membiarkan bintang-bintang menghampar di hadapannya. Lalu sejenak ia terlarut dalam lamunannya mengenai pengetahuan-pengetahuan warisan jutaan tahun silam yang begitu akurat, entah mengenai konstelasi maupun ilmu-ilmu bintang lainnya seperti meramal cuaca.
Ia tahu, bahwa orang-orang dulu selalu memperhatikan isyarat-isyarat yang dikirim bumi kepadanya. dan mereka selalu punya waktu untuk mencari petunjuk tentang itu, mereka percaya, isyarat-isyarat itu berguna untuk mereka dalam mempertahankan kehidupan, juga keseimbangan bumi. Mereka mempelajari bahasa tubuh dari alam sekelilingnya, untuk tahu kapan hujan tiba, dan kapan masa menanam juga memanen berada di puncaknya. 
Mereka sadar, alam itu bukan alat, mereka yakin, awan tak selamanya memberi hujan, mereka tahu, bumi ingin mereka tetap bisa bertahan hidup, tumbuh lebih kuat, untuk menjaga bumi demi generasi-generasi selanjutnya. Sayangnya, semangat yang seperti itu sudah tak lagi terwariskan. Orang-orang sudah mulai menolak untuk percaya pada kesempatan-kesempatan yang diberikan alam pada mereka untuk membuat bumi lebih baik, juga agar hidup mereka lebih layak.

Sabtu, 14 Juli 2012

Kakak Terbaik

Hey, it's been a very long years, isn't? Bagaimana keadaanmu di sana?
Baik-baik saja, kan?
Tadi sore tiba-tiba teringat lagi momen masa kecil kita. Entah karena terbawa mimpi atau mimpi terbawa.
Aku sedang membaca sebuah katalog yang berserakan di kamar. Lalu kubaca, sesaat terlarut dalam konsentrasiku, lalu kemudian aku menyadari. Aku membacanya dari halaman belakang.
Sontak ingatanku langsung tertuju padamu.
Entah sedang delusi atau apa, kurasa aku mulai terhisap ke dalam delirium kesadaranku, menuju kolam-kolam tempat di mana rekaman hidupku dibiarkan lepas dan berenang, seperti ikan.

Jumat, 13 Juli 2012

Trotoar; ke mana? di mana?

Entah pengelihatanku yang semakin redup atau memang lampu kamarku yang semakin pejam.
Tiap kali terpejam lalu sejenak membuka mata, semuanya semakin terlihat kelabu, dan malam justeru terasa semakin terang. Mungkin pagi telah menjelang.
Aku mengingat, selama berjalan kaki, aku memperhatikan bahasa tubuh setiap kendaraan, juga pengendaranya, tiap kali mereka lalu lalang di sampingku.
Salip-menyalip, klakson yang terus berulang, serta deru mesin yang semakin menderu, semuanya menjadi isyarat atas apa yang ingin mereka sampaikan.

Kamis, 12 Juli 2012

"Kau menghilang, kamu jalang yang kusayang.."
Ia lalu berbaring terlentang, jelajah pikirnya mulai membentang.
Imajinya melayang, matanya menghadap ke langit-langit kamar, menerawang.
Sepertinya dia sudah terbang menuju dunianya sendiri, aku melihatnya berdiri di depan gerbang.
Yah, sudahlah, sebaiknya aku membiarkannya seperti itu saja.

#temanku mabuk, dia curhat, kudengarkan, dan kubiarkan dia mencari jawabannya sendiri

Rabu, 11 Juli 2012

Waktu-waktu milik kita, terpenjara

Hey, lihat, hampir semua orang tergesa-gesa, utamanya ketika malam bergulir di sela-sela embun pada kaca kendaraan umum tempatku terduduk mematung, memperhatikan semua yang ada disekeliling. Yang aku lihat, semua orang nampak letih dan ingin segera sampai ke tujuan.
Jangankan untuk peduli, untuk memperhatikan saja mereka telah kehabisan waktu. Sementara setiap milisekon hidup kita, dari pagi hingga bangun berikutnya, berubah menjadi jutaan produk yang sebenarnya tak begitu kita butuhkan. 
Tubuh kita memang telah bebas, tangan tak lagi dikekang, kaki tak lagi dirantai, bahkan punggung tak lagi dilucuti cambuk. Tapi waktu, ya, waktu yang kita miliki, hampir seluruhnya terpenjara, di balik jeruji otoritas yang dibelenggu rutinitas.
Untuk waktu yan terpenjara, kita berhak untuk marah.
Kita berhak untuk merebut kembali waktu-waktu kita yang terpenjara.
Rutinitas mesti hancur.

# sebuah catatan kala petang menjelang, pete-pete 07, pukul 18.32 WITA

Quotes

"There Is Nothing As Certain As An Uncertainty"
-Unknown-


"The Trick Is, To Live With Yourself Forever.."
-Sparrow-